Analisis, Headline

Bank Asing Ambil Untung dari Suku Bunga Tinggi

Maraknya pihak asing di perbankan kita menjadi salah satu penyebab mengapa suku bunga sulit turun. Motif profit oriented dan indikasi adanya transfer pricing memperkuat dugaan tersebut. BI mengimbau mereka untuk turut memangkas suku bunganya. Apriyani Kurniasih

 

Lambatnya respons perbankan yang tidak segera menurunkan suku bunga kredit membuat geram berbagai pihak, seperti pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan tentunya pelaku usaha.

 

Strategi BI dengan menurunkan BI Rate hingga di level 6,5% ditanggapi dingin oleh para pemilik bank. Suku bunga kredit tetap saja tinggi. Fenomena ini dibarengi dengan rendahnya tren permintaan kredit perbankan.

 

Biro Riset Infobank (birI) menilai, bank asing termasuk bank swasta yang dimiliki asing berperan besar terkait dengan lambatnya penurunan suku bunga. Para pemilik bank tersebut, yang mayoritas investor asing ini, masuk Indonesia karena memang mengejar margin yang tinggi untuk menimbun keuntungan yang lebih besar.

 

Untuk meraih keuntungan tersebut, para investor asing ini mengubah pola dari menggenjot profit untuk memperbesar dividen menjadi menarik keuntungan melalui skema transfer pricing. Beberapa waktu lalu BI menemukan adanya indikasi potensi transfer pricing yang dilakukan beberapa bank nasional milik asing ini.

 

Mekanismenya adalah bank-bank tersebut meminjam dana dari induk atau yang terafiliasi dengan suku bunga di atas rata-rata suku bunga pasar yang sewajarnya. Pihak asing diduga mengeruk keuntungan margin melalui mekanisme ini.

 

Dugaan tersebut membuat BI memutuskan untuk menolak pengajuan pinjaman bank-bank tersebut. Tanpa menyebut nama banknya, BI mengatakan bahwa pinjaman valas tersebut diajukan oleh satu bank besar dan dua bank menengah nasional yang meyoritas sahamnya kini dimiliki asing.

 

Menurut analisis Biro Riset Infobank, dibandingkan dengan negara lain, margin yang bisa didapatkan di Indonesia memang terhitung paling tinggi. Di Eropa, Amerika, bahkan di negara tetangga seperti Malaysia maupun Singapura, net interest margin (NIM) hanya berkisar 2%-5%.

 

Menurut data BI, tingkat margin rata-rata pembiayaan di Indonesia berkisar 11%-16%. Untuk kredit konsumsi, misalnya, rata-rata marginnya mencapai 11,78%. Sementara, untuk kredit investasi, rata-rata margin yang bisa didapat 13,35%. Rata-rata margin paling tinggi ada di kredit modal kerja, yang mencapai 16,38%.

 

Mari kita tilik kembali berapa suku bunga kredit yang diterapkan bank-bank milik asing ini. Menurut data Biro Riset Infobank per Agustus 2009, bank nasional yang kini mayoritas sahamnya dimiliki Malaysia, yaitu CIMB Niaga dan Bank Internasional Indonesia (BII), memberikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) masing-masing sebesar 13,75-15,75% dan 11,99%-13,49%.

 

Bagaimana dengan bank-bank yang kini dimiliki investor Singapura, yaitu Danamon, OCBC NISP, dan UOB Buana. Untuk KPR, Danamon memberikan suku bunga 12,50%. Sementara, UOB Buana dan OCBC NISP memberikan bunga masing-masing sekitar 10,50% dan 12,00%-12,25%.

 

Bagaimana perbandingan suku bunga bank asing dan bank lokal? Mana yang lebih tinggi? Jika mengambil sampel kartu kredit, bank-bank asing tulen yang menguasai mayoritas pangsa pasar kartu kredit, yaitu Citibank, Standard Chartered Bank (Stanchart), dan juga The Hongkong and Shanghai Corporation (HSBC).

 

Tingkat suku bunga kartu kredit Citibank dan HSBC per Juli 2009 mencapai 3,25%-3,50%. Sementara itu, Stanchart, Anz Panin Bank, dan Royal Bank of Scotland (RBS) masing-masing menetapkan suku bunga di level 3,59%; 3,50%-4,75%; dan 3,5%.

 

Angka ini memang relatif lebih besar jika dibandingkan dengan beberapa pemain lokal kartu kredit, seperti Bank Negara Indonesia (BNI) yang suku bunga kartu kreditnya hanya 2,95%, ataupun Bank Rakyat Indonesia (BRI) di level 2,68%.

 

Bank-bank milik asing yang notabene hanya bermotif menimbun profit ini terbilang sukses melancarkan kredit konsumsi di Indonesia. Bahkan, belakangan, bank-bank ini pun mulai gencar menyasar segmen mikro. Mengapa? Mereka kembali melihat peluang meraih margin tinggi melalui apa yang dilakukan BRI dengan kredit mikronya.

 

Apa yang dilakukan Danamon Simpan Pinjam (DSP), Citifinansial atau HSBC Pinjaman adalah fokus pada kredit dengan segmen yang sama, yaitu mikro dan menengah dengan suku bunga yang luar biasa tingginya, sekitar 20%-30% per tahun.

 

Memang, tingginya biaya dana (cost of fund) turut menjadi salah satu penyebab suku bunga kredit turun tertatih. Bayangkan, tingkat rata-rata suku bunga deposto satu tahun oleh bank umum mencapai 11,24%, bank campuran 11,12%, dan bank asing 10,58%.

 

Bunga deposito yang ditetapkan perbankan ini tergolong tinggi mengingat BI Rate sudah berada di level 6,5%. Dari segi keamanan nasabah tentu tidak dijamin karena suku bunga penjaminan Lembaga Penjamin Saimpanan (LPS) saat ini sudah turun di level 7,25%. LPS sendiri awalnya berharap penurunan suku bunga penjaminan ini dapat mendorong penurunan suku bunga pinjaman di perbankan.

 

Beberapa waktu lalu, BI telah memanggil 14 bank besar untuk "dipaksa" menurunkan suku bunga kreditnya. Jika berhasil, langkah ini tentu akan menjadi lompatan besar penurunan suku bunga di perbankan. Keempat belas bank besar tersebut termasuk di dalamnya bank swasta yang kini mayoritas sahamnya dimiliki asing.

 

Mengapa pula BI memanggil 14 bank besar? Sebab, kesulitan lain yang dihadapi dalam menurunkan suku bunga kredit adalah mayoritas pangsa pasar perbankan hanya dikuasai oleh sekitar 10 bank besar. Oligopoli bank-bank ini secara tidak langsung ikut memengaruhi suku bunga kredit perbankan.

 

Bagaimana dengan asing? Bila ditelusuri kembali, berdasarkan aset, 10 bank asing dan bank swasta yang dimiliki asing telah menguasai sekitar 33% pangsa pasar di Indonesia.

 

Artinya, mereka cukup berperan dalam memengaruhi suku bunga, apalagi dengan motif mengeruk laba setinggi-tingginya tadi. Jika mereka ini bisa dipersuasi juga, maka suku bunga diharapkan dapat turun secara signifikan.

 

Melihat kondisi ini, tidak salah kalau kemudian BI juga memanggil bank-bank asing terkait upaya penurunan suku bunga. BI mengimbau bankir-bankir asing untuk ikut memangkas suku bunga banknya. Deputi Senior BI, Darmin Nasution, bahkan meminta mereka untuk komit dalam langkah penurunan suku bunga.

 

Mantan Direktur Jenderal Pajak ini juga mengatakan bahwa sebetulnya tidak perlu ada aturan khusus dalam menurunkan suku bunga. Cukup mereka dipersuasi untuk menurunkan suku bunga seperti yang sekarang ini dilakukan.

 

"Kalau perlu kita akan berikan sanksi kepada bank-bank yang ‘bandel’ tidak juga menurunkan suku bunga di tingkat wajar mengikuti penurunan BI Rate," ujar Darmin.

 

Terkait dengan tingginya margin di perbankan, BI berjanji akan menelisik lebih jauh mengenai besarnya margin yang diambil perbankan melalui suku bunga kreditnya. BI akan terus mendorong agar perbankan lebih efisien.

 

Sudah seyogianya perbankan kembali dianjurkan agar semakin efisien. Toh, langkah ini pada akhirnya akan ikut mendorong penurunan suku bunga kredit. (*)

 

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *