Analisis, Headline

Kredit ke Sektor Produktif Tumbuh 31,14%

Rencana pemerintah untuk mempercepat pembangunan proyek infrastruktur akan berpengaruh sangat signifikan terhadap laju pertumbuhan kredit ke seluruh sektor produktif lain, seperti pertanian, transportasi, dan perdagangan.

 

Indonesia beruntung karena tidak terlalu parah terkena dampak krisis global. Yang membuat Indonesia kali ini sedikit beruntung adalah rendahnya ketergantungan Indonesia terhadap ekspor. Selain itu, Indonesia memiliki produk primer yang harganya tinggi dan tidak rentan terhadap gejolak.

 

Hanya saja, sepanjang 2009 Indonesia masih harus dihadapkan dengan persepsi bahwa risiko berbisnis masih tinggi akibat krisis tersebut. Risiko berbisnis ini naik lantaran adanya ketidakpastian usaha dan menurunnya daya beli masyarakat.

 

Akibatnya, ekspansi usaha pun sepi. Hal ini berdampak terhadap laju kredit, terutama kredit yang disalurkan ke sektor-sektor produktif. Kredit yang sudah disetujui pun hanya mengendap di bank karena pengusaha enggan mencairkan.

 

Berdasarkan data Biro Riset Infobank (birI), pertumbuhan kredit ke sektor-sektor produktif pada 2008 sebagian besar mencapai di atas 20%. Tahun ini, jika dihitung secara year to date (ytd), hanya kredit ke sektor listrik, air, dan gas yang masih tumbuh di atas 20%, yaitu 31,14%.

 

Angka tersebut tentu saja masih sangat jauh jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada 2008 sebesar 133,27% (year on year atau yoy) hingga akhir tahun.

 

Beberapa sektor malah mengalami pertumbuhan negatif, yaitu sektor perindustrian dan sektor jasa dunia usaha. Pertumbuhan kredit sektor perindustrian minus 9,16%, sementara sektor jasa dunia usaha minus 4,73%.

 

Beberapa sektor terkait dengan pengangkutan, perdagangan, dan komunikasi juga mengalami perlambatan pertumbuhan kredit. Jika tahun lalu kredit di sektor ini bisa tumbuh hingga 70,02%, tahun ini hanya bisa mencapai 11,68% (ytd).

 

Hal serupa juga terjadi di sektor perindustrian, pertambangan, dan konstruksi. Sepanjang 2009 (hingga Agustus 2009), hampir semua sektor mengalami perlambatan pertumbuhan kredit.

 

Namun, pemulihan ekonomi yang akan terjadi pada 2010 kemungkinan akan membangkitkan kembali beberapa sektor yang sempat terpuruk. Potensi terbesar ada di sektor telekomunikasi.

 

Sebuah sumber menyebutkan, Indonesia menjadi negara keenam terbesar dalam hal jumlah pelanggan jasa telekomunikasi, khususnya selular, di bawah Cina, India, Amerika Serikat, Rusia, dan Brasil.

 

Pertumbuhan pengguna selular di Indonesia tumbuh fantastis dalam tiga tahun terakhir, dari 19,4 juta pelanggan (2002) menjadi 172,78 juta (2008).

 

Peluang di sektor kelistrikan diperkirakan juga akan mengalami peningkatan mengingat kebutuhan listrik yang terus meningkat dan belum meratanya pasokan listrik ke beberapa daerah di Indonesia.

 

Pemerintah juga terlihat mulai agresif menggerakkan investasi di bidang kelistrikan. Hal itu terbukti dengan masuknya beberapa investor asing dan bekerja sama dengan pemain lokal untuk membiayai sektor ini.

 

Hal lain yang perlu dicatat adalah wacana pembangunan infrastruktur yang terus tertunda kini kembali ada gaungnya. Rencana pemerintah untuk mempercepat pembangunan proyek infrastruktur akan berpengaruh sangat signifikan terhadap laju pertumbuhan kredit ke seluruh sektor produktif lain, seperti pertanian, transportasi, dan perdagangan.

 

Sektor-sektor yang bersifat padat modal dan padat karya ini akan menjadi leading sektor bagi pembangunan ke depan. (*)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *