Analisis, Headline

Hati-Hati Terhadap BPR Bermental Moral Hazard

Selama empat tahun terakhir sudah ada 20 BPR yang tinggal nama. Ada yang karena keteledoran mengelola, tak sedikit juga yang gara-gara fraud. Adakah BPR lain yang bakal menyusul jalan maut ini? Tofik Iskandar

 

Beberapa tahun terakhir tak sedikit BPR yang dilikuidasi akibat kelakuan buruk para pengurus, pegawai, atau bahkan pemiliknya. Skandal BPR Tripanca Setiadana (BPR Tripanca), misalnya. Kondisi BPR yang berlokasi di Bandar Lampung ini menjelang akhir hayatnya boleh dikatakan sangat tragis.

 

Pasalnya, sejak terseret karamnya bisnis kopi Tripanca Grup yang terkena imbas krisis global akhir tahun lalu, kehidupan BPR Tripanca barangkali sudah bak neraka di dunia keuangan.

 

Mulai dari mengalami kesulitan likuiditas karena nasabahnya melakukan aksi rush, masuk dalam pengawasan khusus Bank Indonesia (BI), merembet menjadi kasus dana macet yang dinilai termasuk tindak pidana perbankan oleh BI, hingga akhirnya resmi ditutup BI pada Maret 2009. Padahal, sebelum bencana itu terjadi, BPR Tripanca merupakan BPR terbesar ketiga di Indonesia.

 

Selain BPR Tripanca, BPR-BPR yang dicabut izin usahanya oleh BI dari awal 2009 hingga November 2009 adalah BPRS Babussalam, BPR Sri Utami, BPR Margoth Artha Utama, dan yang paling terbaru BPR Satya Adhi Perkasa. Itu berarti, jumlahnya sudah melebihi jumlah BPR yang dilikudiasi selama 2008 yang sebanyak empat BPR.

 

Keempat BPR yang almarhum pada 2008 adalah BPR Citraloka Danamandiri, BPR Kencana Arta Mandiri, BPR Sumber Hiobaja, dan BPR Handayani Ciptasehati. Penyebab likuidasi keempat BPR itu lebih kurang serupa dengan penyebab jatuhnya BPR Tripanca, yakni fraud.

 

Sementara, jumlah BPR yang dilikuidasi pada 2007 dan 2006 masing-masing lima BPR dan enam BPR. Dengan demikian, sejak Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mulai beroperasi hingga saat ini, setidaknya sudah ada 20 BPR yang tinggal nama dan masuk dalam proses penanganan klaim.

 

“Selama empat tahun ini kami sudah membayar klaim 19 BPR dan 1 bank umum sebesar Rp600 miliar. Dan, (dari) dana tersebut, uang yang kembali hanya sekitar Rp100 miliar,” ujar Firdaus Djaelani, Kepala Eksekutif LPS, kepada Dwi Setiawati dan Apriyani Kurniasih dari infobanknews.com, di Jakarta, medio November 2009 lalu.

 

Lantas, masih adakah BPR lain yang nasibnya bakal senaas 20 BPR tersebut? Menurut Firdaus, saat ini belum ada lagi.

 

“Kalau BPR sekarang ada sekitar 12 BPR yang mungkin sedang dalam perhatian. Tapi, ini sifatnya masih bisa keluar masuk. Tapi, kalau BPR, risikonya tidak terlalu besar, kecuali untuk BPR Tripanca. Waktu itu klaim yang harus kami bayar sekitar Rp360 miliar. Itu hampir 80% dari total DPK (dana pihak ketiga) di Tripanca. Dia lebih besar dari Bank IFI,” tambah Firdaus. (*)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *