Ekonomi dan Bisnis, Headline

Mendag Optimis Industri Alas Kaki Bersaing di Perdagangan Bebas

Menurut BPS, ekspor alas kaki nasional pada Oktober 2009 naik sebesar 49% menjadi US$ 133 dibanding September 2009, walaupun terjadi penurunan ekspor akibat krisis global selama empat bulan sebelumnya.

 

Jakarta–Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu optimis, industri alas kaki nasional mampu bersaing di era perdagangan bebas karena kualitas masih jauh lebih unggul.

 

Hal itu disampaikan Mendag pada saat bertemu dengan para produsen sepatu Indonesia yang sedang melakukan pertemuan dengan Pembeli, New Balance, di PT. Panarub Dwikarya, Tangerang, Banten, pada 27 Januari 2010.

 

Dalam kunjungannya ke pabrik pengekspor alas kaki terbesar tersebut, Mendag mengatakan, kualitas produk bisa menjadi salah satu tumpuan para pelaku industri sepatu di Indonesia dalam menghadapi persaingan perdagangan bebas.

 

"Ternyata alas kaki dari Indonesia dapat bersaing dengan RRT dan negara pengekspor lain untuk potensi pasar yang terbuka dengan era perdagangan bebas. Potensi ekspor sepatu masih sangat besar, dengan pasar utama Eropa dan Amerika, karena itu industri nasional harus selalu tingkatkan daya saing produknya," ujarnya.

 

Pada pertemuannya dengan pihak buyer dari New Balance hari ini, Mendag menjelaskan pemilik merk dari Amerika itu pernah merelokasi pembeliannya di Yogya dan kemudian sempat keluar.

 

 “Karena daya saing produksi Indonesia semakin baik, mereka kembali merelokasi pembelian alas kaki dari industri alas kaki
antara lain di Tangerang,” kata Mendag.

 

Produksi alas kaki untuk buyer New Balance dimulai pada Juni 2009 dengan kapasitas 50 ribu pasang per bulan dan saat ini 270 ribu pasang per bulan. Akhir 2010 akan di tingkatkan menjadi 500 ribu pasang per bulan dan 700 ribu pasang per bulan pada akhir 2011.

 

Sampai saat ini PT Panarub Dwikarya telah mengekspor sepatu tersebut ke manca negara sebanyak 1 juta pasang.

 

Saat ini negara tujuan ekspor alas kaki Indonesia tahun 2008 adalah Uni Eropa senilai US$ 946 juta (50,17%), AS senilai US$ 393,95 juta (20,89%), Jepang senilai US$ 90,23 juta (4,79%), RRT senilai US$ 64,36 juta (3,41%) dan ASEAN senilai US$ 72,67 (3,85%).

 

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor alas kaki nasional pada Oktober 2009 naik sebesar 49% menjadi US$ 133 dibanding September 2009, walaupun terjadi penurunan ekspor akibat krisis global selama empat bulan sebelumnya.

 

Walaupun untuk 2009 tetap diperkirakan akan ada kontraksi sekitar 7% untuk ekspor alas kaki di 2009 dibanding 2008 karena menurunnya permintaan dunia, kontraksi yang dialami lebih rendah dari rata-rata kontraksi yang terjadi dan untuk beberapa pasar seperti AS nilai ekspor tidak mengalami penurunan yang besar.

 

Pada 2010 ada optimisme akan meningkat kembali ke positif, termasuk karena ada peningkatan relokasi order. Pangsa pasar alas kaki Indonesia di pasar Amerika Serikat (AS) mengalami kenaikan setelah mengalami penurunan dalam kurun waktu lima tahun (2004-2008). Nilai impor AS terhadap alas kaki Indonesia mencapai US$ 404,44 juta dengan share 2,07%.

 

“Kenaikan pangsa pasar diharapkan bisa berdampak positif bagi kinerja ekspor alas kaki secara nasional. Angka share ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-5 sebagai pemasok alas kaki ke AS setelah Brazil, Italia, Vietnam dan RRT,” jelas Mendag.

 

BPS mencatat, pada 2004 AS menyumbangkan devisa 35,5% dan turun menjadi 33,1% tahun 2005, 28,1% (2006), 23,4% (2007), 20,9% (2008). Pada Oktober 2009, pangsa pasar kembali naik menjadi 23,1% dengan nilai ekspor sebesar US$ 324 juta.

 

Selama periode 2004-2008, ekspor sepatu ke AS cenderung fluktuatif. Pada 2004, ekspor tercatat senilai US$ 469 juta naik menjadi US$ 472 di 2005.

 

Tahun 2006 terjadi penurunan menjadi US$ 450 juta dan menjadi US$ 384 (2007) dan kembali naik menjadi US$ 394 juta pada 2008. Selaras dengan kinerja ekspor, kinerja investasi di sektor alas kaki juga sangat menggembirakan.

 

Alas kaki yang oleh dunia perbankan dianggap sebagai industri yang mulai tenggelam (sun set industry), justru sekarang makin diminati oleh investor asing. Pada 2008, sedikitnya 25 perusahaan sepatu asing sudah menandatangani kontrak untuk berinvestasi di Indonesia.

 

Dari 25 perusahaan tersebut, 10 perusahaan melakukan perluasan usaha dan 15 perusahaan lain merupakan investor baru. Total investasi yang akan ditanamkan oleh ke-25 perusahaan tersebut mencapai US$ 170 juta dengan total kapasitas
produksi per tahun mencapai 287 juta pasang.

 

Selain itu, peluang ekspor alas kaki Indonesia semakin besar. Hal ini karena para pelaku industri alas kaki yang tadinya melakukan produksi di RRT saat ini sedang merencanakan untuk merelokasi pabriknya ke Indonesia karena upah buruh di RRT sudah tidak kompetitif karena meningkatnya biaya jaminan sosial, asuransi kesehatan buruh yang naik hingga 100%.

 

Secara strategi diversifikasi sumber penyediaan barang, buyer dari berbagai merek ternama sudah sejak 2005 melakukan relokasi pembelian dari RRT ke Indonesia maupun negara-negara lain. Strategi tersebut kemudian diikuti oleh arus investasi untuk meningkatkan kapasitas di Indonesia.

 

“Untuk pengembangan pasar ekspor alas kaki, jenis yang layak didorong ekspornya adalah alas kaki berbasis bahan baku kulit karena selama 5 tahun terakhir, tren volume ekspornya tumbuh rata-rata 58,51% per tahun. Selain itu, alas kaki teknik lapangan juga perlu dikembangkan karena tren ekspornya rata-rata mencapai 38% per tahun,” tambah Mendag.

 

Untuk meningkatkan daya saing industri alas kaki baik untuk ekspor maupun untuk bersaing di pasar dalam negeri, beberapa masukan dari Aprisindo terkait dengan bahan baku kulit, persaingan yang tidak adil termasuk impor tidak resmi, peralatan dan ekonomi biaya tinggi, akan disikapi oleh Pemerintah secara komprehensif dan terkoordinasi.

 

Terkait dengan persaingan untuk alas kaki di dalam negeri dengan impor alas kaki yang murah, Mendag yakin hal tersebut tidak akan mematikan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di bidang alas kaki.

 

“Produk-produk yang dijual dengan harga yang lebih murah dibanding produk-produk lokal. Namun, untuk kualitas produk dalam negeri masih lebih unggul, karena itu industri akan dapat bertahan dan mampu bersaing. Mari kita bersama-sama meningkatkan mutu dan desain produk UKM kita,” kata Mendag. (*)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *