Headline, Perbankan

Suku Bunga Kredit Bank Tinggi Bukan Karena Dominasi Asing

Penguasaan asing terhadap pasar Indonesia bukan penyebab sulitnya suku bunga kredit perbankan turun. Tetapi, karena tidak adanya laporan audit perusahaan yang benar dan masih lemahnya penegakan hukum yang membuat suku bunga pinjaman sulit turun. Erik A.Dirgahayu

 

Jakarta–Pernyataan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa yang mengatakan suku bunga kredit perbankan di Indonesia sulit turun karena perusahaan asing mendominasi pasar di Indonesia, dibantah ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan yang mewakili perbankan asing di Indonesia.

 

Menurut Fauzi, tingkat suku bunga kredit bank sangat tergantung dari resiko gagal bayarnya si debitur.

 

"Semakin besar resiko gagal bayar debitur semakin tinggi suku bunga kreditnya dan semakin rendah resiko gagal bayar seperti yang dimiliki perusahaan-perusahaan bluechip, maka semakin rendah pula tingkat suku bunga kreditnya," Fauzi Ichsan kepada infobanknews.com pada 16 April 2010, di Jakarta.

 

Lalu, mengapa pihak bank masih mengenakan bunga yang tinggi padahal kondisi perusahaan belum diketahui akan mengalami gagal bayar?

 

”Banyak perusahaan di Indonesia masih membuat laporan audit perusahaan dengan tidak benar, akibatnya bank sebagai kreditur memberikan suku bunga pinjaman yang tinggi karena khawatir akan adanya gagal bayar di kemudian hari. Inilah yang menyebabkan perusahaan besar, menengah dan kecil mengeluhkan tingginya suku bunga pinjaman,” kata Fauzi Ichsan.

 

Di samping itu, lanjutnya, lemahnya kepastian hukum dan keadilan di Indonesia turut berperan dalam meninggikan suku bunga pinjaman bank.

 

”Pada tahun 1998 sektor korporasi banyak yang menunggak kewajiban lalu pihak bank tidak bisa langsung menyelesaikan kasus gagal bayar itu dengan cepat dan adil di pengadilan,” kata Fauzi mencontohkan.(*)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *