Intermeso

Kesederhanaan Sofyan Basir

Keunikan Sofyan Basir, dia senang mengutak-atik mobil. Setiap akhir pekan, waktu luangnya diisi dengan merawat mobil kesayangannya, Range Rover, supaya tetap nyaman dikendarai. Biasanya dia mengemudikan sendiri mobilnya saat hendak bermain golf.


Jakarta–Orang biasanya bangga jika memperoleh penghargaan. Namun, tidak dengan Sofyan Basir. Dia justru terbebani saat dianugerahi penghargaan Marketer of The Year 2008.


Dia merasa penghargaan tersebut sebenarnya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk jajaran karyawan BRI di seluruh Indonesia.


“Penghargaan ini juga boleh dikatakan sebuah beban. Beban yang harus dipertahankan pada tahun-tahun mendatang agar bisa menjadi lebih baik lagi,” kata Sofyan yang mengaku jarang berwisata selama di BRI karena banyak tugas yang harus diselesaikan.


Beberapa keputusan strategis Sofyan terbukti berdampak baik terhadap kinerja BRI. Bisa dipastikan, kepemimpinan Sofyan sebagai Dirut BRI dalam tiga tahun terakhir telah mengubah image BRI dari bank desa menjadi bank yang sejajar dengan bank-bank besar nasional.


Hal itu tidak lain karena pria yang senang membaca ini bukanlah wajah baru di kancah perbankan nasional. Dia sudah malang-melintang di sektor ini sejak 1980 dengan bekerja di Bank Duta. Tak lama setelah itu, dia hijrah ke Bank Bukopin pada 1985.


Di Bank Bukopin Sofyan menduduki beberapa jabatan manajerial, diawali sebagai kepala cabang di beberapa cabang Bank Bukopin, group head line of business, dan direktur komersial hingga dirut.


Keberhasilan mengelola BRI hingga menjadi besar tidak lantas membuat Sofyan lupa daratan. Menurutnya, bank beraset Rp303,84 triliun pada kuartal pertama 2010 ini sudah bagus di mata masyarakat.


Tapi, memang akhir-akhir ini pihaknya mencoba tidak hanya kuat di desa dan mencoba untuk memperkuat lini di perkotaan.


Dulu BRI fokus di micro finance, sekarang mesti memperluas jangkauan karena segmen desa sudah “diserang” bank lain. Sofyan pun mengakui hal itu.


Tapi, dia menilai BRI mampu menggali potensi yang ada di perkotaan karena sudah cukup mampu dari segi produk dan teknologi serta memiliki jumlah kantor yang memadai. Dia pun menilai, perusahaan yang dikelolanya sangat layak untuk bersanding dengan bank lain di perkotaan.


Dia mengatakan bahwa orang desa sudah makin maju dan melek teknologi. Apalagi, banyak di antara mereka yang menyekolahkan anaknya ke kota. Tak urung, BRI ingin lebih mendekatkan diri dengan masyarakat di pedesaan dan perkotaan.


Untuk itu, Sofyan mengatakan, BRI harus selalu melakukan inovasi produk, seperti Visa, Mastercard, dan electronic banking (e-banking). 


Sofyan mengakui, menjadi the best marketing 2008 bukan pekerjaan susah. “Sebetulnya mudah. Caranya, bagaimana mengenalkan produk kami dengan baik kepada masyarakat. Bagaimana mengomunikasikannya dengan maksimal sehingga kedekatan mereka dengan kami bisa ditingkatkan lagi,” akunya.


Sifat dirinya maupun filosofi perusahaan yang selalu mendekatkan diri dengan wong cilik ternyata berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari Sofyan Basir, misalnya dalam hal gaya berpakaian yang sangat sederhana.


Biasanya Sofyan mengenakan baju batik, jas, atau kemeja plus dasi yang bergaya konservatif atau menyesuaikannya dengan pertemuan yang akan dikunjungi.


Tren gadget yang terus berkembang juga tidak membuat Sofyan tergiur untuk gonta-ganti telepon seluler (ponsel) layaknya bankir-bankir lain. Dia masih mempertahankan ponsel lawasnya.


“Justru, menariknya, Pak Sofyan itu tidak seperti bankir-bankir lain yang sering gonta-ganti ponsel. Apalagi mengikuti tren teknologi. Yang saya tahu, ponsel beliau sangat kuno dan mungkin sudah tidak diproduksi lagi di pasaran. Artinya, beliau hanya menggunakan ponsel untuk menelepon dan ditelepon karena lebih memilih komunikasi langsung dengan siapa pun,” ungkap Aviliani, pengamat ekonomi yang juga Komisaris BRI.


Kesederhanaan bankir yang satu ini juga terlihat dari tempat tinggalnya di bilangan Permata Hijau (Jakarta Selatan) dan Bendungan Hilir (Jakarta Pusat). Tempat tinggalnya tidak tampak mewah, model klasik, seperti rumah kuno.


Tidak hanya itu, saat melakukan kunjungan ke daerah, dia juga tak pilih-pilih hotel. Dia tidak mempermasalahkan apakah hotel tersebut berkelas atau tidak. Yang penting, dia dapat mengunjungi karyawan hingga pelosok.


Keunikan lain seorang Sofyan Basir, dia senang mengutak-atik mobil. Setiap akhir pekan, waktu luangnya diisi dengan merawat mobil kesayangannya, Range Rover, supaya tetap nyaman dikendarai. Biasanya dia mengemudikan sendiri mobilnya saat hendak bermain golf. (*)


 

5 comments

  1. ya betul Pak Sofyan Basir memang unik & sederhana, tp tolong diingat pak…, kesuksesan bapak jg dari hasil kerja keras anak buah bapak, dari level bawah sampai level atas, untuk itu Pak, tolong perhatikan kesejahteraan anak buah Bapak, terutama yg level bawah, sudah lama gak ada perbaikan kesejahteraan……. terima kasih pak.

    • kalau seandainya bapak memang sederhana, hapuskan pekerja otsourching karena justru pekerja outsourching yang bekerja lebih baik dibanding staff yang selama ini menjadi impian. dengarkan suara kami pak

  2. bapak memang sederhana,tp kesejahteraan pegawai jg harusnya jg disederhanakan pak,para punggawa dilini bawah bekerja keras untuk usaha bapak,boleh aja artikel membahas kesederhanaan bapak tp lebih baik lagi bapak jg tunjukin kedermawanan bapak sama level bawah di tempat yang paling sulit dijangkau selain BRI,terima kasih

  3. Betul sekali, pak sofyan memang sederhana, pak sofyan layak menjadi best marketer, tapi yg lebih layak lagi adalah pekerja di lini bawah yg bekerja siang dan malam utk kemajuan BRI dan tolong di pikirkan kembali kesejahteraan pekerja di lini bawah. Saya kok merasa masih gaji saya kecil dibandingkan dengan beban kerja dan resiko yg saya emban. Maju terus BRI….. Trims

  4. bapak memang sederhana dan memiliki harta melimpah.,.,.
    bagaimana nasib outsourching di BRI,.,?
    kenapa kebijakan bapak sekarang membuat kesenjangan sosial semakin dalam..,.,
    kebijakan ini seperti menzolimin outsourching semakin luas.,.,
    apakah bapak tidak memikirkan nasib pekerja yg lain.,.,
    kenapa bapak membuat kesenjangan antara frontliner dan backoffice,.,.
    apakah bapak kira backoffice tidak memiliki tanggung jawab yg besar,.,?
    terima kasih atas perhatian bapak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *