Banking LifeStyle, Headline, Perbankan

Dari KTA Rp50 Juta Kini Beromzet Rp800 Juta

Dari omzetnya yang diterima tiap bulan, ia mampu meraup keuntungan rata-rata 10%. Persentase keuntungan paling besar justru dikontribusikan bukan dari usaha rumah makan, melainkan dari toko hasil pengembangan usahanya. Sandiyu

Peran perbankan cukup besar dalam menciptakan pengusaha mikro yang sukses. Perbankan tidak hanya berperan sebagai penyalur kredit, tapi juga membina para debitor mikro dengan baik dan hal itu dipercaya dapat menciptakan pengusaha mikro yang sukses. Bahkan, bisa naik kelas menjadi pengusaha papan atas.

Salah satu pengusaha mikro yang sedang menapaki tangga menuju kesuksesan adalah Johan Agus Winarto. Ia adalah nasabah binaan Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN). Johan memulai bisnis mikronya dengan berbisnis rumah makan di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Lelaki yang memiliki jiwa entrepreneurship ini menilai usaha rumah makan yang dikelolanya harus terus berkembang. Namun, ternyata mengembangkan usaha tidak mudah. Masalah klasik pun menggelayutinya, yaitu permodalan.

Johan tidak patah arang. Dengan pemikiran yang masak dan perhitungan yang matang, Johan memutuskan untuk mencari tambahan modal dengan mengajukan kredit ke BTPN sekitar tiga tahun silam.

“Waktu itu saya mulai dari usaha rumah makan. Kebetulan BTPN buka cabang dekat dengan kami. Kemudian, saya mengajukan kredit, tapi awalnya kredit tanpa agunan (KTA),” terang Johan melalui sambungan telepon, awal Mei 2010.

KTA dari BTPN sebesar Rp50 juta pun mengucur ke kas Johan. “Saya juga enggak percaya kenapa saya dipercaya dapat kredit Rp50 juta,” tukasnya lantas tertawa renyah. Setelah digunakan untuk mengembangkan usaha rumah makannya, dalam tempo tidak terlalu lama, yakni enam bulan, lunaslah kredit tersebut.

Setelah melunasi utang, Johan kembali mengajukan kredit. Ia tidak mengalami kesulitan dalam mengajukan kredit tersebut. “Kalau kesulitan selama pengajuan dan sebagainya enggak ya,” tegasnya.

Dari sisi bunga, memang Johan mengakui agak tinggi karena kredit yang diajukan pada awalnya berjenis KTA. Namun, dibandingkan dengan manfaat yang diterima, yaitu untuk mengembangkan usaha, bunga tersebut tidak memberatkan. Sebab, usaha kuliner yang dilakoninya memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan dengan bunga kredit yang dikenakan BTPN.

“Kalau saya kira, masalah bunga itu fleksibel ya, tergantung usahanya. Kalau di kuliner, jangan lagi 3% sebulan, biar lebih dari itu kalau usaha kuliner tidak terlalu besar. Kalau kuliner ‘kan dihitungnya hariannya, untungnya saja minimal 30%,” tuturnya.

Menurutnya, KTA sebesar Rp50 juta yang diterima saat awal mengajukan kredit itu sangat membantunya dalam mengembangkan usaha.

Johan juga mengaku sering mengikuti pelatihan yang diselenggarakan BTPN. Pelatihan tersebut berisi materi-materi mengenai pengembangan usaha, pengelolaan keuangan, pembukuan, dan lain-lain.

Pelatihan yang diselenggarakan BTPN tidak hanya sekadar memberikan materi berupa teori-teori. Proses diskusi yang interaktif dan membuka wawasan kerap terjadi saat pelatihan.

Bahkan, pada saat senggang di luar waktu pelatihan, karyawan BTPN menyempatkan diri mendatangi debitor untuk berdiskusi mengenai pengembangan usaha. Dengan pendekatan seperti itu, ia merasa BTPN itu layaknya seorang teman.

Selepas mengikuti pelatihan, pikiran Johan terbuka lebar. Alhasil, ia berpikir untuk terus mengembangkan usahanya. Salah satu alternatif yaitu membuka usaha baru yang tidak sejenis. Pilihannya pun jatuh pada usaha toko mebel. Berturut-turut, kemudian ia membuka toko elektronik dan toko pertanian.

Saat memulai usaha, omzet yang diterimanya berkisar Rp100 juta-200 juta per bulan. Kini dari keempat usaha yang dijalani, omzet yang diraup rata-rata sebesar Rp700 juta-Rp800 juta per bulan. “Bahkan, kalau musim ramai bisa Rp1 m per bulan,” ucap Johan yang kini mempekerjakan 31 orang karyawan.

Dari omzetnya yang diterima tiap bulan, ia mampu meraup keuntungan rata-rata 10%. Persentase keuntungan paling besar justru dikontribusikan bukan dari usaha rumah makan, melainkan dari toko hasil pengembangan usahanya.

Namun, dari sisi persentase keuntungan dari omzet, keuntungan dari usaha rumah makan yang paling besar, yakni 30% dari omzet yang diterima.

Tidak puas mengembangkan usaha yang ada saat ini, Johan kini berencana membuka usaha minimarket. Awalnya ia berminat membuka usaha minimarket berkat diskusi dengan pihak BTPN.

“Kami juga berencana untuk membuat minimarket. Malah, (untuk pinjaman membangun minimarket) yang terakhir ini mau dikasih bunga cuma 1% per bulan,” ujarnya gembira.

Sebagai nasabah BTPN, Johan memiliki harapan agar pelayanan bank dalam segala aspek terus ditingkatkan. Ia juga berharap kualitas pelatihan yang diberikan BTPN terus-menerus meningkat. “

Bahkan, saya pernah usul. Kalau bisa kami diajak studi banding dengan pengusaha yang lebih besar. Kalau perlu dibawa ke atau sekalian aja studi banding ke luar negeri,” pungkasnya sembari tertawa. (*)

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *