Analisis, Headline

Bankers’Acceptance: Sumber Komisi Gurih

Inovasi dan kreativitas tinggi untuk meningkatkan nilai produk atau jasa yang akan ditawarkan kepada nasabah memang sangat diperlukan. Salah satu alternatifnya lewat bankers’ acceptance. Alat pembiayaan ini mampu mendatangkan keuntungan gurih? Paul Sutaryono

Selama ini, dikenal beberapa alat pembiayaan perdagangan (trade financing). Sebut saja, anjak piutang (factoring), discounting, forfaiting, dan bankers’ acceptance. Alat pembiayaan yang disebut terakhir lebih dikenal dengan B/A. Ia merupakan salah satu alternatif alat pembiayaan yang memikat. Apa itu bankers’ acceptance? Dan, mengapa memikat?

Bankers’ acceptance merupakan wesel berjangka (time draft) yang dapat ditarik di suatu bank yang telah setuju membayarnya pada saat jatuh tempo (Alan C. Shapiro, 1994). Alat pembiayaan perdagangan yang menawan ini pada dasarnya telah memainkan peran penting selama berabad-abad dalam perdagangan internasional (ekspor impor).

Mengapa ia dikenal dengan julukan bankers’ acceptance? Karena, dengan accepting (menerima) atau membubuhkan kata accepted pada wesel tersebut, bank tersebut telah membuat satu janji untuk membayar kepada siapa saja pemegang wesel tersebut yang mencantumkan sejumlah uang pada waktu tertentu.

Dengan kalimat operasional perbankan, kalau wesel tersebut telah di-accept (diterima) oleh bank pembayar, berarti wesel itu telah memperoleh jaminan dan akan dibayar pada saat jatuh tempo oleh bank yang memberikan akseptasi (acceptance). Akseptasi ini dilaksanakan dengan mencantumkan kata accepted, tanggal, dan tanda tangan.

Menurut terjemahan bebas dari Bill of Exchange Act 1822 (Amir, M.S., 1998), wesel atau biasa juga disebut draft atau bill of exchange adalah suatu perintah tertulis tanpa syarat ditujukan oleh yang mengeluarkan perintah itu (disebut drawer) kepada orang lain (disebut drawee) untuk melakukan pembayaran pada waktu surat itu ditujukan kepadanya atau pada satu tanggal yang ditentukan atau dalam beberapa waktu kemudian, setelah tanggal surat perintah itu dikeluarkan, sejumlah uang yang harus dilakukan pembayarannya kepada order atau kepada pemegang surat itu.

Tabel 1 dan Tabel 2 berikut memberikan ilustrasi mengenai alur langkah sebelum dan setelah penerbitan bankers’ acceptance.

Tabel 1

Alur Langkah Sebelum Terbitnya Bankers’ Acceptance
No. Alur Langkah
1. Importir menandatangani kontrak jual beli (sales contract) dengan eksportir.
2. Importir mengajukan permintaan kepada banknya (issuing bank/accepting bank/bank importir/bank A) untuk menerbitkan letter of credit (L/C) atas namanya.
3. Bank A mengirim L/C ke advising bank/bank eksportir/bank B.
4. Bank B memberitahukan dan meneruskan L/C kepada eksportir.
5. Eksportir mengapalkan barang.
6. Eksportir menyampaikan L/C, wesel, dan dokumen pengapalan kepada bank B.
7. Bank B menyampaikan L/C, wesel, dan dokumen pengapalan kepada bank A.

Tabel 2

Alur Langkah Setelah Terbitnya Bankers’ Acceptance

No. Alur Langkah
8. Bank A meng-accept wesel (maka terbitlah bankers’ acceptance) dan menjual dengan potongan atau diskonto (discount) bankers’ acceptance itu dan segera mengirimkan dananya kepada bank B.
9. Bank B melakukan pembayaran bankers’ acceptance yang telah di-discount tersebut kepada eksportir.
10. Bank A menyampaikan dokumen pengapalan kepada importir.
11. Bank A menjual kembali (rediscount) bankers’ acceptance di pasar uang.
12. Investor di pasar uang melakukan pembayaran kepada bank A.
13. Importir membayar L/C pada saat jatuh tempo.
14. Investor di pasar uang menyerahkan bankers’ acceptance yang telah jatuh tempo kepada bank A.
15. Bank A melakukan pembayaran sejumlah uang sebagaimana tercantum dalam bankers’ acceptance tersebut kepada investor di pasar uang.

Untuk lebih memperjelas penerbitan bankers’ acceptance, gambar berikut memaparkan ilustrasi alur langkah tersebut.

Bankers’ acceptance merupakan alat pembiayaan perdagangan internasional berjangka pendek. Karena itu, bankers’ acceptance biasanya berjangka waktu 30 hari (1 bulan), 90 hari (3 bulan), atau maksimal 180 hari (6 bulan). Rata-rata, 90 hari (3 bulan). Akan tetapi, hal itu dapat disesuaikan dengan periode secara keseluruhan yang diperlukan untuk mengapalkan barang.

Pada umumnya, accepting bank (bank importir atau bank A) akan mengenakan sejumlah biaya atau komisi untuk mengaksep wesel berjangka itu. Biaya ini sudah barang tentu bervariasi. Hal ini sangat tergantung minimal pada lamanya jatuh tempo (maturity) wesel berjangka itu. Semakin panjang jatuh temponya, sudah pasti akan mendatangkan biaya yang lebih tinggi. Kok bisa? Ya, karena, risiko yang dihadapi accepting bank tersebut akan makin lama. Pepatah lama “high risk, high return” masih tetap berlaku.

Alat pembiayaan perdagangan bankers’ acceptance sesungguhnya menarik dan memberikan beberapa manfaat pasti bagi accepting bank (bank importir atau bank A). Pertama, bank A (bank importir) akan memperoleh pembayaran biaya atau komisi atas penerbitan bankers’ acceptance. Kedua, bank A akan menerima provisi atas penerbitan L/C tersebut yang dibuka oleh importir.

Ketiga, bank A bisa mendapatkan keuntungan dari selisih harga antara pembelian (buy atau discount) dan penjualan kembali (sell atau rediscount) bankers’ acceptance di pasar uang. Perolehan pendapatan dari ini semua merupakan pendapatan dari komisi (fee based income) bagi bank bersangkutan.

Keempat, dengan menjual kembali (rediscount) bankers’ acceptance di pasar uang, bank A juga akan memperoleh dana segar untuk membiayai kembali importir yang sama dalam transaksi ekspor impor lainnya atau importir lainnya. Langkah ini menggambarkan bahwa bankers’ acceptance memang dapat diperjualbelikan.

Kelima, eksportir akan memperoleh dana segar lebih cepat, walaupun sang eksportir “hanya” menerima dana lebih sedikit karena pembelian dengan potongan atau diskonto (discount) tersebut.

Namun, perlu dicatat, bank A sebagai penerbit bankers’ acceptance juga menghadapi risiko kredit yang cukup besar. Di mana risiko kredit itu? Pada saat jatuh tempo, bank A mempunyai kewajiban untuk membayar sejumlah uang yang tertera pada wesel tersebut kepada pemegang wesel terkini (current holder). Pemegang memiliki hak recourse akan sejumlah uang secara penuh yang tercantum dalam wesel itu dari endorser (penandatangan atau pemberi kuasa) terakhir.

Risiko kredit itu muncul ketika importir tidak mempunyai niat baik atau tidak mampu membayar pada saat banker’s acceptance jatuh tempo. Jangan lupa, keaslian bankers’ acceptance merupakan hal yang terpisah dari L/C yang menjadi underlying transaction-nya.

Dengan bahasa bening, hak recourse di atas berarti, apa pun yang terjadi, pemegang bankers’ acceptance mempunyai hak sejumlah uang secara penuh sebagaimana tercantum dalam wesel itu. Faktor ini sungguh penting. Mengapa? Karena, hal ini justru akan meningkatkan pemasaran bankers’ acceptance itu sendiri dan sekaligus akan mengurangi risiko secara signifikan bagi investor di pasar uang.

Sudah saatnya dan seharusnya bank nasional makin mampu meningkatkan berbagai upaya untuk meraih pendapatan dari komisi. Pendapatan yang satu ini memang makin menarik untuk lebih ditumbuhkan dan dikembangkan lebih jauh.

Untuk apa? Yakni, untuk mendampingi pendapatan dari bunga kredit (interest income) yang mulai gencar. Sesungguhnya, masih banyak cara. Namun masalahnya, belum semua berhasil digali. Untuk itu, memang mutlak diperlukan inovasi dan kreativitas tinggi untuk meningkatkan nilai produk atau jasa yang akan ditawarkan kepada para nasabah (value creation). Salah satunya adalah bankers’ acceptance yang gurih ini. (*)

Penulis adalah pengamat dan praktisi perbankan.

 

One comment

  1. Siang admin,

    Apakah saja manfaat BA dari sisi bank Eksportir ?
    Dan bagaimana jika importir melakukan pembayaran setelah jatuh tempo (terlambat) ? Bagaimana perhitungannya?

    Gambar ilustrasi alur langkah penerbitan BA kenapa tidak muncul?
    Boleh di upload ulang min?
    Terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *