Banking LifeStyle, Headline

Kolektor Utang Wajib Patuhi Kode Etik

Tindakan kekerasan dalam penagihan utang oleh debt collector tidak dibenarkan di beberapa negara. Bagaimana kode etik debt collector di negara lain? Apriyani Kurniasih

Kasus penganiayaan yang melibatkan oknum debt collector (DC) kembali terkuak. Kali ini korbannya bahkan sampai kehilangan nyawa di tangan sang DC. Irzen Octa, sekjen salah satu partai politik, berniat menanyakan perihal tunggakan utangnya kepada Citibank yang membengkak dari Rp48 juta menjadi Rp100 juta. Bukannya solusi yang didapat, ia justru malah kehilangan nyawanya setelah dianiaya oleh tiga oknum DC.

Sebelum kasus ini merebak, Infobank meminta konfirmasi mengenai penggunaan DC oleh Citibank kepada pihak Citibank. Lukas Djoesianto, Vice President Mass Segmen Head Citibank, mengaku, Citibank telah meminimalisasi penggunaan DC. “Kami punya prosedur sendiri untuk melakukan sistem penagihan di Citibank. Kami penuhi sesuai dengan peraturan dan hukum yang ada. Penggunaan DC malah cost buat kami. Penggunaan DC dilakukan setelah berbagai upaya diambil, tapi itu pilihan terakhir. DC di sini maksudnya orang yang mengingatkan. Orangnya memang dari outsource, agensi yang memiliki sertifikat standar pelayanan dari Citibank,” akunya.

Sebelumnya, kasus penganiayaan yang melibatkan DC juga terjadi di Bandung yang mengakibatkan korban cacat pada salah satu matanya. Saat menghubungi Infobank, beberapa waktu lalu, si korban mengaku tak mampu membayar utang kepada sebuah bank asing lantaran usahanya bangkrut. “Tapi, saya beriktikad baik untuk membayar, walau dengan mencicil. Entah kenapa saya malah dipukuli oleh orang yang mengaku petugas DC bank tersebut,” terangnya. Kasus ini pun dilaporkan sang korban kepada pihak kepolisian dan kini tengah dalam proses pengadilan.

Kasus penganiayaan oleh DC sebetulnya sudah lama meresahkan masyarakat. Jumlah pengaduan untuk kasus ini di Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pun terus meningkat. Pada 2009, dari 501 pengaduan, 91 kasus berupa pengaduan berkaitan dengan masalah perbankan. Kebanyakan pengaduan tersebut mengenai masalah kartu kredit dan perlakuan DC yang dianggap kasar. Pada 2010, dari 539 kasus, sekitar 79 atau 19% merupakan pengaduan yang berhubungan dengan masalah perbankan.

Banyak kalangan yang menyayangkan lemahnya pengawasan oleh Bank Indonesia (BI) terkait dengan proses penagihan yang dilakukan bank melalui jasa DC. Di negara lain penggunaan jasa pihak ketiga (kolektor utang) untuk penagihan utang diatur secara rinci dan jelas. Di Amerika Serikat (AS) dan Afrika Selatan, misalnya, jasa pihak ketiga penagihan utang yang banyak digunakan perbankan dan perusahaan lain ataupun perseorangan beroperasi secara profesional dan sangat transparan.

Praktik jasa penagihan utang (DC) di AS salah satunya diatur dalam Fair Debt Collection Practise Act (FDCPA). Undang-udang (UU) ini berisi tentang pedoman penagihan utang, hak konsumen yang terlibat dengan penagih utang, termasuk hukuman dan solusi atas pelanggaran UU tersebut. FDCPA biasanya berlaku untuk mengatur utang pihak ketiga, bukan kolektor internal korporasi. Dalam FDCPA juga didefinisikan secara jelas bahwa seorang kolektor utang bukan kreditor, melainkan kolektor utang yang membeli utang macet dari kreditor asli untuk tujuan penagihan utang.

Aturan penagihan utang terperinci dengan jelas yang memuat hak dan kewajiban, baik DC maupun konsumen. Demikian juga dengan sanksi dan praktik penagihan utang oleh pihak ketiga hingga proses peradilan. Jasa kolektor utang menjadi industri yang sangat diatur di AS. Setiap perusahaan kolektor utang harus tunduk dan patuh pada kode etik yang ditetapkan dalam FDCPA.

Industri perusahaan kolektor utang juga tergabung dalam asosiasi bernama International Association of Professional Debt Arbitrators (IAPDA). Anggota dan IAPDA diwajibkan mengikuti pelatihan penagihan utang untuk memperoleh sertifikat dengan biaya mencapai sekitar $797.

Meski semua telah diatur secara jelas, bukan berarti tidak ada masalah atau pelanggaran pada praktik penagihan utang di AS. Pada laporan 2009 AS menerima 78.838 keluhan konsumen tentang penagihan utang oleh pihak ketiga pada 2008 atau meningkat dari 70.951 pada tahun sebelumnya. Hanya, kasus yang terjadi tidak berlarut-larut karena penanganan atau penyelesaiannya sudah diatur secara jelas.

Sama seperti di AS, pedoman tentang penagihan utang oleh pihak ketiga (DC) juga diatur sangat rinci di Australia. DC, misalnya, dilarang menghubungi debitor pada jam-jam tertentu dan dilarang menghubungi debitor lebih dari tiga kali dalam seminggu atau paling banyak 10 kali sebulan.

Perusahaan jasa penagihan utang di Australia tidak hanya melakukan penagihan utang. Mereka juga dapat memberikan saran kepada konsumen mengenai cara menyelesaikan utang dengan memberikan solusi rencana pembayaran yang disanggupi oleh konsumen. “Kami bersedia melakukan itu asalkan utang terbayar,” ungkap salah satu agen DC di Australia seperti dikutip Infobank.

Tahun lalu jumlah utang kartu kredit di Australia mencapai sekitar $44 miliar. Data awal tahun ini menyebutkan, sekitar 45% nasabah sedang berjuang untuk membayar utang, sementara 10%-nya terlambat membayar utangnya.

Pedoman dan Kode Etik Penagihan oleh Debt Collector di Luar Negeri

Amerika Serikat

1.      Mengidentifikasikan dirinya terlebih dulu kepada konsumen.

2. Waktu yang tepat untuk menghubungi konsumen melalui telepon adalah pukul 08.00-21.00 waktu setempat.

3. Komunikasi langsung baru dilakukan setelah konsumen menerima pemberitahuan tertulis dan konsumen tersebut tidak mau melakukan komunikasi atau menolak membayar utang. Komunikasi bertujuan memberikan solusi atau saran kepada konsumen terkait dengan pembayaran utang.

4. Tidak diperbolehkan menelepon terus-menerus, mengganggu, ataupun melecehkan konsumen.

5. Tidak diperbolehkan melakukan penagihan di tempat konsumen bekerja.

6. Tidak boleh melakukan kebohongan ataupun penipuan, mengancam, melakukan tindakan melanggar hukum, dan menggunakan bahasa yang tidak sopan dalam melakukan pengumpulan utang.

7. Mendiskusikan utang konsumen dengan pihak ketiga.

8. Kalau konsumen meminta verifikasi dalam waktu 30 hari setelah dia menerima pemberitahuan, penagih utang harus memberikan informasi verifikasi tersebut atau menghentikan usaha penagihan sama sekali.

Australia

1.Dilarang menghubungi konsumen pada jam tertentu, yakni sebelum pukul 07.30 atau sesudah 21.00 waktu setempat, kecuali ada persetujuan dari konsumen untuk dihubungi pada jam-jam tersebut.

2.      Dilarang menghubungi konsumen di tempat kerja jika tidak diperkenankan oleh atasannya.

3.      Dilarang mengancam, berbahasa kasar, dan melakukan kekerasan atau tindakan yang merugikan harta benda atau reputasi orang lain.

4.      Tidak diperkenankan menelepon berulang-ulang untuk mengganggu siapa pun.

5.      Tidak boleh menelepon debitor tanpa mengidentifikasi diri di awal percakapan.

6.      Dilarang mengancam untuk melakukan tindakan hukum kalau faktanya tidak ada tindakan yang bisa diambil secara hukum terkait dengan proses penagihan.

7.      Dilarang mendiskusikan utang konsumen kepada atasannya atau orang lain.

Tips Menghadapi Debt Collector Kasar

  1. Catat nama si DC beserta identification number (ID) dan nomor teleponnya, serta tanyakan surat tugas kalau dia datang secara langsung.
  2. Rekam percakapan dengan DC jika dia menggunakan kata-kata kasar. Usahakan tenang dan jangan menanggapi.
  3. Usahakan selesaikan tunggakan dengan mendatangi kantor bank penerbit dan lakukan negosiasi agar bisa membayar sesuai dengan kemampuan. Anda juga bisa meminta program keringanan dengan menyampaikan alasan terjadinya tunggakan. Jangan pernah membayar langsung ke DC, tapi bayarlah ke kasir atau melalui rekening bank.
  4. Teror yang dilakukan DC bisa dilaporkan kepada Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI).
  5. Jika DC datang langsung ke rumah dan mengancam, Anda dapat melaporkannya kepada petugas RT dan jika diperlukan lapor polisi dengan laporan perbuatan tak menyenangkan dan mengganggu ketertiban umum. (*)

5 comments

  1. Setuju utk segera diterapkan di indonesia,karena bnyak dc yg tak bertanggung jawab berbuat semena-mena,saya ada contoh kasus yg menimpa tetangga saya,dia menjaminkan di BESS FINANCE CIBINONG,BOGOR,JAWA BARAT,hampir tiap malam skitar jam 10.00 malam ke atas didatangi oleh dc,kadang sya lihat dia berkata kasar dan memaksa,malah pernah dengar sempat sampai dc tsb. berlaku dan berbicara kasar dan pernah mengajak berkelahi,bukan mencari solusi agar membyr utang malah berbuat seenaknya dan tidak tau etika yg pantas.

  2. Makanya kalo berhutang pertimbangkan dgn matang matang..kalo Gǟк sanggup Gǟк usah berhutang..

  3. tu masalah penagihan utang ni ada yg mau bayar utang keredit di bank aja susah ,mau melunasin utang aja susah di persulit oleh pihak Bank wah bank yg paling tidak Propesional contohnya Bank BTPN ceritanya MUR (menindas Usaha Rakyat),kalo bisa bagi masyarakat yg ingin keredit di bank ini urungkan aja niatnya bakalan bermasalah nantinya , ini suatu pengaduan kepada bank BI supaya ditindak lanjuti bank BTPN tersebut banyak keluhan masyarakat di internet kebnyakan dari sumut (medan),mau melunasin keredit aja di persulit ingat DOSA BOSSS Neraka Menanti Anda…./

  4. bagi masyarakat yg ada DC datang menagih Utang Yg tidak sopan atau melakukan kekerasan mending di teriakin maling biar di rameramekan masyarakat tapi pake etika yg benar hahahahahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *