Headline, Perbankan

Rating 120 Bank versi Infobank 2011

Pada rating tahun ini ada 2 bank yang tidak memenuhi syarat untuk dirating, yaitu Bank BNI Syariah dan bank Jabar Banten Syariah yang baru lahir sebagai bank umum syariah pada 2010.

Jakarta–Kinerja industri perbankan terus tumbuh. Per Maret lalu, perbankan nasional membukukan laba Rp18,32 triliun atau naik 20,73% dari periode yang sama pada 2010. Rapor biru perbankan pada 2011 diprediksi bakal mengulang sukses seperti 2010. Biro Riset Infobank (BirI) mencatat, laba industri perbankan 2010 tumbuh 39,38% menjadi Rp60,79 triliun dibanding tahun sebelumnya. Dari 121 bank yang ada di Indonesia, mayoritas mencatat pertumbuhan laba positif. Jumlah bank yang labanya turun hanya 32 bank dan mayoritas adalah bank papan bawah dengan aset kurang dari Rp1 triliun.

Kinerja biru perbankan 2010 itu tercermin hasil riset Biro Riset Infobank yang bertajuk “Rating 120 Bank Versi Infobank 2011”. Dalam rating terhadap bank umum atas kinerja 2010, terdapat 71 bank yang meraih predikat “sangat bagus”, 37 bank berpredikat “bagus”, 9 bank berpredikat “cukup bagus”, 1 bank berpredikat “tidak bagus”, dan 2 bank absen.

Menurut Biro Riset Infobank, peningkatan permodalan perbankan yang ditambah membanjirnya likuiditas membuat agresivitas perbankan dalam penyaluran kredit. ‘Tebalnya NIM (net interest margin) mendongkrak laba perbankan yang mayoritas masih ditopang oleh pendapatan bunga bersih,” ujar Chief of Research Biro Riset Infobank Ateng Anwar Darmawijaya, dalam acara pemaparan “Rating 120 Bank versi InfoBank 2011“ di Jakarta, akhir Mei 2011 lalu.

Biro Riset Infobank melakukan kajian terhadap 120 bank berdasarkan laporan keuangannya yang dipublikasikan. Kajian ini didasarkan pada lima kriteria: (1) Permodalan, yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR); (2) Aktiva Produktif, yaitu Non Performing Loans dan Pemenuhan PPAP; (3) Rentabilitas, yaitu Return on Average Assets (ROA) dan Return on Average Equity (ROE); (4) Likuiditas, yaitu Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Pertumbuhan Kredit dibandingkan dengan Pertumbuhan Dana; dan (5) Efisiensi, yaitu Beban Pendapatan Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Operasional dan Net Interest Margin.

Kajian Biro Riset Infobank membagi bank dalam tiga kelompok berdasarkan besarnya modal yang terbagi dalam tiga kelas, yaitu bank-bank dengan modal di atas Rp10 triliun sampai dengan Rp50 triliun; bank-bank dengan modal Rp1 triliun miliar sampai dengan Rp10 triliun; dan bank-bank dengan modal Rp100 miliar sampai di bawah Rp1 triliun.

Bank-bank yang bermodal di atas Rp10 triliun sampai dengan Rp50 triliun dan menyabet predikat Sangat Bagus, yaitu (1) Bank CIMB Niaga; (2) Bank Rakyat Indonesia; (3) Bank Danamon; (4) Bank Mandiri; (5) Bank Central Asia; (6) PaninBank; dan (7) Bank Negara Indonesia.

Untuk kelompok bank bermodal Rp100 miliar sampai dengan kurang dari Rp1 triliun adalah (1) Bank BTPN; (2) Bank Jatim; (3) Bank Jabar Banten; (4) Bank Syariah Mandiri;  (5) PermataBank; (6) Bank Kaltim; (7) Bank Riau Kepri; (8) Bank BTN; (9) Bank Sumut; dan (10) Bank Mayapada.

Sedangkan kelompok bank yang bermodal Rp1 triliun sampai dengan Rp10 triliun dan 10 bank yang berhasil memperoleh predikat “sangat bagus” dengan skor tertinggi adalah (1) Bank Kalbar; (2) Bank Saudara; (3) Bank Lampung; (4) Bank Jambi; (5) Bank Sulsel; (6) Bank NTB; (7) Bank Sumsel Babel; (8) Bank Kesejahteraan Ekonomi; (9) Bank BPD Kalsel; dan (10) Bank Nagari.

Rating yang dilakukan Biro Riset Infobank ini hanya didasarkan pada laporan keuangan bank selama 2 tahun terakhir, dan tidak memasukkan unsur manajemen maupun pelanggaran yang dilakukan oleh bank-bank. Pada rating tahun ini ada 2 bank yang tidak memenuhi syarat untuk dirating, yaitu Bank BNI Syariah dan bank Jabar Banten Syariah yang baru lahir sebagai bank umum syariah pada 2010.

Sedangkan Bank Pundi adalah satu-satunya bank yang berpredikat “tidak bagus” karena kinerjanya masih dalam pemulihan karena sebelumnya (Bank Eksekutif) kinerjanya terbakar kredit macet dan modalnya tergerus sejak 2009. Tahun lalu, kendati CAR-nya melonjak jauh di atas ketentuan minimum, Bank Pundi masih rugi, dan kredit maupun dananya tumbuh menurun.

Menurut Direktur Biro Riset Infobank Eko B Supriyanto, kondisi perekonomian telah mendorong bank-bank untuk tumbuh dan mencatat kinerja gemilang. “Bank-bank yang berhasil mencetak predikat “sangat bagus” adalah bank-bank yang berhasil memanfaatkan momentum pertumbuhan ketika situasi ekonomi makro sangat kondusif sepanjang 2010,” ujarnya.

Menurutnya, setidaknya ada empat hal mengapa sebagian besar bank berhasil mencatat kinerja “sangat bagus” dan mencetak laba yang lebih besar dari tahun sebelumnya. Satu, kondisi makro-ekonomi yang mendorong pertumbuhan perbankan. Dua, kemampuan bank-bank mempertahankan NIM tebal yang didukung meningkatnya dana murah dan membaiknya efisiensi. Tiga, bank-bank semakin giat untuk mencari kesempatan fee-based income. Empat, ekspansi kredit yang kencang.

Pada 2011, industri perbankan berpotensi kembali mencetak pertumbuhan laba. Rapor perbankan pada kuartal pertama 2011 pun menunjukan pertumbuhan peningkatan. Namun, yang menjadi tantangan adalah meningkatnya risiko operasional seiiring dengan meningkatnya aktivitas bisnis perbankan. ”Bank-bank harus berhati-hati terhadap risiko operasional, terutama terkait dengan kejahatan dana,” ujar Eko. (*)

One comment

  1. bagaimana dengan rentabilitas bank2 yang menurun? dan bank apa saja yang mengalami pnurunan dari tahun ke tahun?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *