Sebelum pecahnya bubble di sektor otomotif, yang sudah terlihat dengan membanjirnya produk otomotif di jalan akibat kemudahan dalam proses pembelian, yang salah satunya melalui pembiayaan bank, Bank Indonesia siap menerapkan kebijakan loan to value ratio. Dalam hal ini menaikkan uang muka (down payment/DP) kredit kepemilikan mobil. Paulus Yoga
Jakarta–Bank Indonesia (BI) menilai, dengan tingginya kucuran kredit ke sektor perumahan (properti) dan otomotif di tengah pertumbuhan ekonomi, bisa berpotensi menimbulkan bubble ekonomi bila tidak dijaga tetap sehat.
“Dalam fase recovery, itu biasanya dua sektor yang cepat sekali pertumbuhannya bisa berpotensi bubble. Antara lain otomotif dan properti,” tukas Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwano, kala dijumpai wartawan di Kompleks Gedung BI, Jakarta, Jumat, 22 Juli 2011.
Menurutnya, saat ini yang sudah terlihat jelas potensi bubble ekonomi adalah sektor otomotif, sementara untuk sektor properti masih perlu dilihat lebih lanjut, apakah ada kenaikan harga.
“Nah, properti saya kira nggak terlalu inilah. Tapi perlu diwaspadai, kalau liat harganya memang naik tapi tidak atau belum berpotensi bubble. Untuk otomotif itu kamu lihat sendiri saja di jalanan, mobil, motor saat ini sangat mudah mendapatkannya. Nah itu terlalu cepat,” tandasnya.
Untuk itu, bank sentral tengah menyiapkan kebijakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bubble di sektor otomotif dan properti. Beberapa perubahan tengah disiapkan seperti rencananya menaikan uang muka (down payment/DP) lebih besar.
“Misalnya, kita mau beli mobil kan bank bayarin 90% kita bayar 10% makanya kita nanti down payment diperbesar. Angkanya nanti yah,” tutur Hartadi.
Ia menjelaskan, untuk itu ke depan BI akan menerapkan konsep loan to value ratio secara lebih sistematis. Saat ini, lanjutnya, paling tidak secara rata-rata dalam pengucuran kredit di kedua sektor tersebut, menggunakan komposisi kredit bank 90% dan 10% uang konsumen.
“Ya ada instrumennya nanti. Kalau kamu tahu ada kebijakan nanti namanya loan to value jadi dia nanti itu pemberian kredit ke sektor tertentu misalkan saja sektor otomotif yang berpotensi bubble maka down payment-nya ini akan dibesarkan. Nah, porsi kreditnya dikecilkan,” tandasnya. (*)



[...] hal yang menarik saat kangojek membaca salah satu artikel di infobanknews.com dimana disebutkan kalau BI (dalam hal ini disampaikan oleh Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwano [...]