Analisis, Headline

Menghitung Dampak Jika AS Gagal Bayar

Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara yang tak mungkin bangkrut kini mencemaskan pelaku pasar karena negara ini berpeluang gagal bayar utang. Bagaimana imbasnya bagi perekonomian Indonesia jika negara tersebut kolaps? A. Prasetyantoko

Kepanikan melanda pelaku pasar. Moody’s Investors Service memberi peringatan kemungkinan penurunan peringkat utang Amerika Serikat (AS). Risiko tersebut terkait dengan belum adanya titik temu antara kubu Demokrat dan Republik tentang tambahan pagu utang. Jika pemerintah gagal mendapatkan persetujuan penerbitan utang baru, ada kemungkinan mereka tak mampu membayar bunga cicilan bagi para pemegang surat utang AS. Dengan demikian, AS akan mengalami “technical default” alias gagal bayar.

Selama ini ada semacam konsensus, AS tidak mungkin gagal bayar. Dia merupakan tempat paling aman (safe havens) berinvestasi. Jika sampai AS mengalami kesulitan membayar utang, paling tidak akan terjadi kekacauan dalam dua hal. Pertama, para pemegang surat utang AS akan panik menjual (panic selling) sehingga harga akan jatuh. Kedua, mata uang dolar AS pasti akan goyah.

Selain Cina, negara-negara pengekspor minyak di Timur Tengah (petro-dollar) diyakini menjadi pemegang utama surat utang AS. Jika AS benar-benar tak mampu membayar bunga obligasi, dua kawasan ini akan terpukul dalam gelombang pertama. Namun, diyakini akan ada gelombang susulan lainnya, yang pada dasarnya akan mengguncangkan hampir seluruh kawasan dunia. Transmisi di sektor keuangan bisa dengan cepat bermutasi pada transmisi perdagangan yang akhirnya mengakibatkan gangguan pada fundamental perekonomian global.

Pendek kata, akan ada banyak “bencana finansial” dan “bencana ekonomi” tatkala AS mengalami gagal bayar. Pertanyaannya, seberapa besar kemungkinan AS akan mengalaminya?

Pertarungan Paradigma

Li Daokui, penasihat Bank Sentral China, memperingatkan betapa seriusnya risiko kebangkrutan AS. Jika potensi itu makin meningkat, pemerintah Cina dipastikan akan mengambil kesempatan untuk mendorong yuan sebagai mata uang internasional. Namun, banyak pihak mensinyalir isu kebangkrutan AS sebenarnya sangat politis. Intinya, Partai Republik sedang “melakukan apa saja” guna mempersulit kemungkinan Barack Obama terpilih kembali menjadi Presiden AS.

Harus diakui, beban utang pemerintah yang mencapai US$14,3 triliun dengan besaran defisit mencapai US$1,4 triliun pada tahun fiskal 2011 sudah memasuki batas yang mengkhawatirkan. Di lain sisi, pemerintah masih membutuhkan suntikan dana segar untuk menggerakkan perekonomian yang belum pulih benar pascakrisis keuangan 2007/2008.

Kongres membekukan keputusan peningkatan pagu utang hingga 2 Agustus mendatang. Menteri Keuangan Timothy Geitner mengatakan, jika sampai utang tidak ditambah, AS tidak akan mampu membayar bunga cicilan utang. Benarkah seserius itu?

Alasan kubu Republik tidak mau menambah beban utang tentu sangat politis. Namun, pemerintah juga dianggap terlalu berlebihan menyampaikan skenario kebangkrutan AS. Apakah ancaman Moody’s untuk menurunkan rating utang AS dari Triple-A menjadi Aaa adalah bagian dari tekanan terhadap parlemen? Harus diakui, masalah ini telah menjadi sebuah “permainan politik” tingkat tinggi.

Meskipun aroma politiknya sangat kental, masing-masing kubu tetap memiliki justifikasi teori ekonomi yang relatif mapan. Pergumulan politik di parlemen AS melibatkan perdebatan pemikiran.

Dalam ilmu ekonomi dikenal mazhab intervensi dan mazhab pasar. Soal stimulus ekonomi, tambahan beban utang, pengurangan pajak, cara menciptakan lapangan kerja sering kali menjadi arena pertarungan kedua pemikiran tersebut. Bagi cara pandang intervensionis (Keynesian), pemerintah bukan saja harus melakukan campur tangan dalam ekonomi secara temporer, melainkan permanen. Karena itu, wajar jika pemerintah perlu meningkatkan rasio utang dalam rangka stimulus ekonomi.

Asalkan setiap dolar yang diluncurkan bisa menggerakkan ekonomi dan menyerap tenaga kerja lebih banyak, tingginya rasio utang masih bisa ditoleransi. Itulah yang disebut sebagai efek “crowding-in” atau stimulus yang menimbulkan efek positif bagi ekonomi riil.

Sebaliknya, pemikiran yang begitu percaya pada mekanisme pasar mengusulkan agar pihak swasta lebih berperan pada penciptaan lapangan pekerjaan serta pemulihan ekonomi. Stimulus yang dilakukan pemerintah hanya akan menimbulkan friksi dan persaingan dengan pihak swasta sehingga menimbulkan efek “crowding-out”. Karena itu, penambahan utang sangat berbahaya karena akan memengaruhi persepsi risiko para pelaku pasar.

Allen Meltzer, penasihat ekonomi John F.Kennedy dan Ronald Reagen, menyatakan, kebijakan stimulus ekonomi yang dijalankan Obama hanya akan menciptakan ketidakpastian lingkungan bisnis. Dia merekomendasikan pembatalan peningkatan pajak guna membiayai Reformasi Jaminan Kesehatan (health-care reform) serta pengurangan pajak temporer dalam rangka memulihkan perekonomian.

John Taylor, profesor ekonomi ternama dari Stanford University, mendukung gagasan kubu Republik untuk membatasi utang. Dia menyatakan, AS harus melakukan pengurangan pengeluaran besar-besaran (deep cut-spending) serta melakukan pembatasan utang secara ketat (debt-limit increase). Dua cara ini disebutnya sebagai langkah yang bisa dipertanggungjawabkan dalam ilmu ekonomi.

Sudah diketahui, kubu Republik memang cenderung mempraktikkan teori pasar secara fundamental sehingga argumen-argumennya lebih banyak menentang kebijakan intervensi yang dianut oleh kubu Demokrat. Jadi, perdebatannya bukan saja terjadi pada level kebijakan publik secara teknis, melainkan juga kepentingan politik sekaligus pertarungan mazhab pemikiran ekonomi.

Implikasi Ekonomi

Perdebatan seru di antara parlemen yang dikuasai kubu Republik dan pemerintah yang dipimpin kubu Demokrat akan membawa implikasi serius bagi lanskap perekonomian global. Seperti kita tahu, masa depan utang negara kawasan Eropa juga meningkat ketidakpastiannya. Di lain sisi, Jepang masih akan fokus pada pemulihan ekonomi pascagempa dan musibah nuklir.

Kawasan yang dianggap akan menyokong perekonomian global adalah Brasil, Rusia, India, dan Cina (BRIC). Namun, akhir-akhir ini mulai banyak muncul kekhawatiran tentang masa depan perekonomian Cina. Nouriel Roubini meramal Cina akan mengalami hard landing setelah 2013. Indikatornya, investasi sudah mencapai lebih dari 50% dari produk domestik bruto (PDB).

Masa booming perekonomian ternyata menimbulkan investasi yang berlebihan (over-investment) sehingga menimbulkan risiko gelembung ekonomi (bubble economy). Dalam teori siklus bisnis, setiap periode booming biasanya akan diikuti oleh periode penggembosan (bursting). Jika terjadi penurunan secara drastis, akan seperti pesawat dengan pendaratan buruk: terjadi guncangan dan mungkin korban.

Bagaimana dengan Indonesia? Melihat perkembangan terkini, justru muncul potensi-potensi yang bisa dikembangkan dalam jangka pendek. Para investor global sekarang ini sedang mereposisi portofolio investasi mereka dan cenderung menghindari pasar-pasar yang selama ini dikenal bagus. Mereka akan mencari peluang di tempat-tempat yang belum begitu terekspos oleh risiko global. Dalam hal ini, Indonesia adalah salah satu pilihan untuk investasi.

Arus modal asing, baik dalam bentuk portofolio maupun foreign direct investment (FDI), akan lebih deras mengalir ke Indonesia. Setelah menjadi tuan rumah pertemuan ke-20 Forum Ekonomi Dunia Asia Timur, dipastikan akan banyak investor berminat menanamkan modalnya di Indonesia. Apalagi jika dalam 6-12 bulan ke depan Indonesia benar-benar mendapatkan predikat “investment grade”.

Sebagai bangsa yang sedang berkembang, saat ini kita masih membutuhkan perluasan kapasitas investasi. Tujuannya, agar pertumbuhan ekonomi tinggi, penyerapan tenaga kerja bertambah, cadangan devisa meningkat, dan sebagainya. Dengan begitu, kita akan lebih kuat menghadapi guncangan-guncangan ekonomi yang masih akan terus terjadi pada masa depan. (*)

Penulis adalah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Atma Jaya, Jakarta.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *