Headline, Perbankan

BI Susun Lima Pilar Keuangan Inklusif

BI mengangap saat ini keuangan inklusif telah menjadi isu global di antara negara berkembang dan negara maju. Apa langkah BI dalam mengembangkan keuangan inklusif? Dwitya Putra

Jakarta–Bank Indonesia (BI) telah menyusun lima pilar kegiatan keuangan inklusif dan lima produk utama yang akan menjadi obyek dalam kegiatan keuangan inklusif guna membuka akses masyarakat terhadap lembaga keuangan formal.

Lima pilar kegiatan utama inklusif tersebut, yakni edukasi keuangan, pemetaan informasi keuangan, fasilitasi intermediasi, saluran distribusi dan regulasi yang mendukung.

Sedangkan produk keuangan yang akan menjadi obyek dalam kebijakan keuangan inklusif antara lain, tabungan, kredit, sistem pembayaran, asuransi, yang terkait kredit serta produk/jasa keuangan lain untuk UMKM.

“Kegiatan keuangan yang inklusif diharapkan akan dapat mendukung stabilitas keuangan yang menjadi landasan pokok bagi pembangunan ekonomi yang kokoh,” kata Deputi Gubernur BI Muliaman D Haddad, di Jakarta, Jumat, 25 November 2011.

Menurutnya, dari sisi ekonomi makro, kegiatan ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang makin inklusif dan berkelanjutan, serta dapat memberikan manfaat kesejahteraan bagi masyarakat.

“Peran perbankan yang menguasai sekitar 80% industri keuangan di Indonesia, sangat diharapkan dalam membangun layanan keuangan masyarakat yang bisa dinikmati lebih banyak masyarakat,” jelasnya.

Muliaman menambahkan, pentingnya memperluas layanan keuangan kepada masyarakat karena survey rumah tangga yang dilakukan BI tahun lalu membuktikan bahwa 62% rumah tangga tidak memiliki tabungan sama sekali.

Bahkan, hasil study WorldBank tahun lalu menyatakan separuh penduduk Indonesia tidak punya akses ke lembaga keuangan formal. Hal ini membatasi kemampuan masyarakat untuk terhubung dengan kegiatan produktif lain. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *