Analisis, Headline

Indonesia Bangsa Besar, Bukan Negara Gagal

Benar bahwa masih ada benturan antar-kelompok di masyarakat, birokrasi kompleks belum hilang dan rakyat miskin masih ada. Tetapi, ini semua tidak cukup untuk menyimpulkan kita menuju negara gagal. Zaenal A. Budiyono

Ada satu paradoks yang menghimpit ruang publik selama ini, dimana di satu sisi banyak elit mengatakan kita tengah menuju negara gagal karena sejumlah “kegagalan”.

Sementara di sisi lain bangsa ini terus menunjukkan grafik positif dalam pembangunan, seperti kelayakan invastasi yang makin baik, menurunnya angka kemiskinan dan pengangguran, demokratisasi dan peran Indonesia di regional yang juga menunjukkan grafik positif.

Gap persepsi elit dan realitas di atas dalam jangka pendek dan menengah berpotensi menghambat peluang kita untuk menjadi lebih besar lagi, bangsa besar, bahkan menuju negara maju.

Hal itu juga disadari oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dimana pada briefing di pesawat kepresidenan menuju KTT G-20 di Los Cabos, Meksiko, ia menekankan pentingnya bangsa Indonesia untuk siap berfikir besar dan siap menjadi negara maju.

Menurut SBY, kalau bangsa ini takut menjadi besar maka kita tidak akan pernah besar. Padahal, jalan menuju negara besar terbuka lebar, seiring makin kuatnya peran Indonesia di regional dan internasional.

“Kita harus think big dan bekerja sangat keras utk mencapai tujuan itu”, ujar Presiden. Dengan kata lain, berfikir saja tidak cukup, lebih penting dari itu adalah kerja keras dan konsisten.

Terkait dengan isu negara gagal, bagaimana mungkin kesimpulan semacam ini muncul tanpa didasari data dan fakta yang cukup kuat? Mari kita lihat ukuran negara gagal yang banyak berlaku.

Secara definitif, istilah negara gagal digunakan untuk menggambarkan situasi di mana fungsi-fungsi minimal negara (national security, internal order, dan public administration) tidak berjalan efektif.

Secara eksplisit, manifestasi negara gagal berupa krisis multidimensi di bidang ekonomi, politik, keamanan, sosial, konstitusi dan legitimasi yang biasanya berpadu dengan rendahnya kohesivitas diantara elit politik.

Yang terjadi di Indonesia tidaklah seperti itu. Benar bahwa masih ada benturan antar-kelompok di masyarakat, birokrasi kompleks belum hilang dan rakyat miskin masih ada. Tetapi, ini semua tidak cukup untuk menyimpulkan kita menuju negara gagal.

Tiga hal di atas juga terjadi di banyak negara, bahkan negara maju sekalipun. Lihat bagaimana Amerika Serikat (AS) dan Eropa terus direpotkan dengan kekerasan antar kelompok, yang tak jarang bersifat SARA hingga hari ini.

Inefisiensi pelayanan birokrasi juga tak hanya terjadi di Indonesia. Namun, di luar semua itu, kita memiliki modal yang lebih besar untuk melangkah maju. Kita sekarang adalah negara dengan GDP terbesar ke-16 di dunia, maka dari itu Indonesia masuk ke G-20 dan menjadi satu-satunya negara ASEAN yang ada di sana. Posisi diplomasi kita juga menunjukkan grafik yang terus menguat, seiring peran nyata di dunia.

Kontraksi Ekonomi Dunia

Posisi Indonesia sebagai big brother di ASEAN kini juga secara bertahap kembali kita raih. Dunia melihat kerja Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan. Dua kasus yang menguatkan peran Indonesia di Asia tenggara antara lain solusi atas konflik perbatasan yang melibatkan Thailand–Kamboja dan makin terbukanya kemungkinan penerapan demokrasi di Myanmar.

Selain itu, langkah diplomasi kita di panggung internasional juga terus menguat. Tercatat sejak 2008 kita menduduki sejumlah pos penting di PBB, termasuk Dewan Keamanan dan Dewan HAM, sesuatu yang sebelumnya sulit kita raih.

Inilah fakta-fakta bahwa Indonesia berada pada jalur yang benar untuk memperkuat perannya di dunia internasional.

Jika posisi geopolitik kita terus menguat, bagaimana dengan kemampuan ekonomi Indonesia dalam berlayar mengarungi badai krisis sekarang ini? Sebagaimana kita tahu, ekonomi global sekarang ini tengah mengalami sejumlah gangguan.

Pertama, krisis Yunani dan Eropa telah membuat struktur ekonomi global rentan terhadap guncangan. Tercatat empat negara Eropa, termasuk yang maju, yaitu Yunani, Irlandia, Italia dan Portugal, tengah berupaya keluar dari resesi. Bahkan, perkembangan terbaru di Spanyol, bail out untuk menyelamatkan perbankan yang terancam ambruk menyedot tak kurang dari Rp1000 triliun. Bandingkan dengan bailout BLBI di saat krisis yang sekitar Rp6,7 Triliun.

Kedua, masih terjadi slow down di emerging economies. Wen Jiabao dan Hu Jintao dalam sejumlah pertemuan dengan Presiden SBY menyampaikan bahwa China mengalami penurunan growth ke level 7%, sementara India pertumbuhan kuartal pertama hanya 5%  atau di bawah Indonesia yang 6,5%.

Padahal, kita tahu kedua negara tersebut adalah penyangga utama emerging economies, yang kini dua-duanya juga tak luput dari pengaruh memburuknya ekonomi global. Di sisi lain, dunia berharap ada soft landing dari krisis Eropa, sehingga dampaknya tidak menyebar ke kawasan lain. Bahkan ada yang meramalkan akan terjadi great depression bila tren ekonomi dunia masih seperti ini.

Ketiga, situasi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas membuat harga minyak melambung. Syiria dan Yaman tengah mengalami perang sipil yang berbahaya, sementara Iran tak juga menemukan solusi atas nuklirnya yang dicemaskan dunia. Situasi ini jelas membuat dunia kian pesimis akan masa depan ekonomi global ke depan.

Respon G-20 atas situasi ini, sebagaimana juga didorong oleh Indonesia terfokus pada empat langkah, pertama, menghadapi masalah global economy, G-20 terus berupaya menuju strong, balanced and sustainable growth.

Kedua, perlunya memperkuat global financial architecture. Lebih jauh, financial inclusion yang juga menjadi kepentingan kita. Ketiga, memperpendek kesenjangan pembangunan, permasalahan infrastruktur dan green economy. Terakhir, menggairahkan perdagangan internasional yang kini lesu, dengan memfokuskan pembahasan pada isu menciptakan lebih banyak jobs.

Misi di Los Cabos

Apa yang kita perjuangkan bagi kepentingan nasional di tengah-tengah situasi ekonomi yang tidak kondusif seperti di atas? Presiden dalam sesi B-20, sebagai pendahuluan G-20, didaulat untuk menyampaikan perspektif Indonesia terhadap situasi ekonomi dunia yang kini tengah berada dalam gangguan.

Acara yang dihelat para bussnissman dunia itu berupaya mencari cara terbaik untuk membangun kemitraan dengan pemerintahan negara-negara G-20 yang kapasitasnya mencakup dua pertiga dari penduduk dunia.

SBY menyampaikan bahwa kerja sama swasta dan pemerintah sangat penting untuk menemukan solusi krisis global secara cepat. Ketidaksingkronan keduanya justru membuat ekonomi makin tidak baik. Penekanan Presiden langsung disambut antusias oleh pelaku usaha dunia yang hadir di Los Cabos.

Beberapa objectives yang akan kita dorong di G-20 antara lain, pertama, mencari jalan keluar krisis Yunani dan Eropa. Walaupun kini tengah terjadi guncangan ekonomi global, khususnya Eropa, kita harus bisa minimalkan dampak terhadap perekonomian kita, dan harus menjaga positive growth.

Nah, ada perbedaan makna pertumbuhan antara G-20 dengan Indonesia. G-20 menganggap pertumbuhan hanyalah strong, balanced and sustainable growth. “Itu tidak cukup, harus ditambah kata inklusif atau dalam kalimat lain sustainable growth with equity”, kata Presiden.

Kedua, Indonesia ingin mengulangi success story ketika kita dipandang dunia sebagai salah satu dari 3 negara selain China and India yang bisa menjaga pertumbuhan positif dalam situasi krisis global (2008-2009).

Sebagaimana kita tahu, pada periode tersebut banyak negara kolaps dan mengalami pertumbuhan minus. Indonesia bisa membuktikan mampu bertahan di tengah situasi yang tidak menguntungkan. Hal yang sama terjadi sekarang ini, dimana tidak terjadi lay-off atau pengangguran besar-besaran di Indonesia, seperti yang terjadi di beberapa negara.

Jika angka pengangguran di banyak kawasan berada pada kisaran 10% sampai 12%, maka Indonesia berhasil menekannya ke angka 6%. Bahkan kisah ekstrim terjadi di Spanyol, dimana pengangguran terdidik angkanya cukup menyeramkan, mendekati 40%.

Ketiga, keberhasilan kita mengendalikan krisis 2008 salah satunya karena mendapat warning yang cukup, sehingga dapat mengantisipasi dan membangun opsi untuk menjaganya.

Indikator-indikator yang bisa kita deteksi itu hasil dari interaksi kita dalam forum-forum internasional, seperti G-20. Dengan kesiapan menghadapi setiap perubahan, kita akan bisa mengubah krisis menjadi peluang. Apa yang kita capai selama ini ternyata juga mendapatkan pengakuan dunia.

Dalam forum WEFEA di Bangkok beberapa waktu lalu, negara-negara Eropa merasa cukup tenang dengan pertumbuhan di Asia, khususnya Indonesia yang masih positif. Dengan relatif stabilnya Indonesia, dan juga China dan India, maka Eropa masih memiliki peluang untuk memulihkan penyakitnya lebih cepat lagi.

Sebelum menutup sesi briefing di dalam pesawat di atas laut Atlantik, Presiden SBY mengingatkan bangsa Indonesia, bahwa dalam hubungan antarnegara, kerja sama internasional, tidak boleh hanya menuntut apa yang kita dapatkan. Kita juga harus memberi sumbangan pemikiran pada negara sahabat dan dunia.

Itulah ciri negara besar yang tengah kita perjuangkan. “Time has come where Indonesia can give something to the world, because we are now regional power with global outreach”, ujar Presiden. Siapkah kita menjadi negara besar? Wallahualam. (*)

Penulis adalah Asisten Staf Khusus Presiden RI. Tulisan ini ditulis langsung dari Los Cabos, Meksiko, saat pertemuan negara-negara G-20.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *