Headline, Perbankan

Kriteria Menilai BPR Terbaik

Biro Riset Infobank menentukan kriteria BPR dalam rating ini berdasarkan rasio dan pertumbuhan industri. Bagaimana menentukan BPR terbaik? BPR beraset di bawah Rp25 miliar tidak dinilai karena pertimbangan jumlah yang terlalu banyak. Tim Biro Riset Infobank

Jumlah bank perkreditan rakyat (BPR) terus merosot dari tahun ke tahun. Selama 2011 setidaknya ada penurunan jumlah BPR sebanyak 35 BPR. Mereka dilikuidasi dengan alasan rusak dan tertimbun kredit macet akibat ulah pemiliknya yang “rakus”.

Celakanya lagi, tingkat recovery rate BPR yang ditutup Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tak sampai 1%. Artinya, BPR yang ditutup itu tinggal sampah-sampahnya. Jadi, sebenarnya tugas pengawasan BPR ini sangat penting.

Banyak yang gugur dan tidak sedikit pula yang bertahan. Bahkan, masih banyak BPR yang kinerjanya sangat bagus. Rapor BPR tidak bisa digeneralisasi. Menurut catatan Biro Riset Infobank (birI), kini jumlah BPR masih berkisar 1.669 atau menyusut dari 1.706 pada tahun sebelumnya. Lokasi BPR tersebut terkonsentrasi di Jawa dan Bali. Di luar wilayah itu, rasanya sulit mengharapkan BPR tumbuh subur.

Bagaimana menilai sebuah BPR sehingga dapat dikatakan berkinerja sangat baik? Biro Riset Infobank melakukan penilaian dengan metode kuantitatif didasarkan pada laporan keuangan yang dipublikasikan di website Bank Indonesia (BI).

Biro Riset Infobank menetapkan standar aset BPR yang akan masuk penilaian, yaitu di atas Rp25 miliar. Ada 418 BPR yang ditemukan, bertambah dari tahun sebelumnya yang hanya 339 BPR—yang beraset di atas Rp25 miliar. Sebanyak 17 BPR yang tidak di-rating karena laporan keuangannya hanya setahun dan laporan keuangannya tidak lengkap, seperti tidak mencantumkan capital adequacy ratio (CAR), net interest margin (NIM), atau non performing loan (NPL).

Pendekatan yang digunakan Biro Riset Infobank untuk rating BPR ini adalah rasio keuangan penting dan pertumbuhan usaha. Dalam hal ini, BPR dikelompokkan dalam empat kategori: BPR beraset Rp25 miliar sampai dengan Rp50 miliar; BPR beraset Rp50 miliar sampai dengan Rp100 miliar; BPR beraset di atas Rp100 miliar sampai dengan Rp500 miliar; dan BPR beraset di atas Rp500 miliar.

Bahan baku rating BPR terbaik versi Infobank kali ini adalah laporan keuangan BPR tahun buku 2010 dan 2011. BPR yang hanya mengeluarkan laporan keuangan selain per Desember 2010 tak diikutsertakan dalam rating, meski asetnya mencapai triliunan rupiah.
Karena menggunakan laporan keuangan per Desember 2011, rating ini hanya sebuah potret. Bisa saja potret pada 2010 tidak sama dengan kondisi sekarang. Namun, karena menggunakan metode dan pendekatan yang sama, hasilnya pun hanya sebuah potret pada saat laporan keuangan dibuat.

Ada beberapa catatan dalam rating kali ini. Beberapa laporan keuangan BPR kurang akurat, misalnya ada BPR yang NPL-nya berbeda dari hitungan sekilas. Selain itu, soal return on asset (ROA). Ada ROA BPR yang sampai 93%, padahal sebenarnya hanya 9%. Ada pula sebuah BPR rugi, tapi ROA-nya plus. Terkait dengan hal itu, Biro Riset Infobank tidak menghitung ulang.

Berikut kriteria penilaiannya:

PERMODALAN, menyangkut rasio kecukupan modal atau disebut CAR dan pertumbuhan modal. Rasio tersebut untuk melihat seberapa jauh kekuatan permodalan dan komitmen BPR dalam meningkatkan modalnya. Rasio terbaik CAR mengacu pada ketentuan BI. Di atas 8% hingga 12% akan diberi nilai 81 poin. CAR di atas 12% hingga 20% akan diberi penambahan maksimal 100 poin. Rasio CAR ini diberi bobot 15%.

Sisa bobot 5% dari unsur permodalan menggunakan pendekatan pertumbuhan modal. Rasio terbaik dari pertumbuhan modal ini menggunakan pendekatan rata-rata industri BPR yang tergantung pada jumlah asetnya. Untuk BPR dengan aset di atas Rp500 miliar, rata-rata pertumbuhan terbaik di atas 21%.

BPR yang beraset Rp100 miliar sampai dengan Rp500 miliar, rata-rata terbaik 24%, sedangkan pertumbuhan terbaik BPR beraset Rp50 miliar hingga Rp100 miliar di atas 21%. BPR dengan aset Rp25 miliar hingga Rp50 miliar memiliki pertumbuhan modal terbaik sebesar 21%, sedangkan di atas pertumbuhan rata-rata industri diberi nilai 100 poin. Kalau di bawah nilai rata-rata, penilaian dilakukan secara proporsional.

AKTIVA PRODUKTIF. Penilaian aktiva produktif dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan rasio jumlah kredit NPL dengan jumlah kredit. Dengan kata lain, posisi NPL. Standar terbaik untuk NPL ini adalah di bawah 5% dengan batas toleransi hingga 10%. Di atas 10%, nilainya 0. Bobot rasio NPL ini sebesar 15%.

Selain NPL yang dinilai, dalam kelompok aktiva produktif dilihat peningkatan jumlah kredit yang disalurkan dalam kurun waktu satu tahun. Sama halnya dengan modal, untuk pertumbuhan kredit, BPR juga dibagi dalam empat kategori: BPR dengan aset Rp25 miliar hingga Rp50 miliar dengan angka terbaik 24%; BPR dengan aset Rp50 miliar hingga Rp100 miliar dengan angka terbaik 26%; BPR dengan aset di atas Rp100 miliar sampai dengan Rp500 miliar dengan angka terbaik 26%; dan BPR dengan aset di atas Rp500 miliar dengan angka terbaik 25%. Pertumbuhan kredit tersebut bobotnya 5%.

RENTABILITAS, meliputi tiga unsur, yaitu rasio laba dibandingkan dengan modal, rasio laba dibandingkan dengan aset, dan pertumbuhan laba. Sejauh mana modal dan aset yang dikelola bisa menghasilkan laba dalam kurun waktu satu periode. Rasio laba dengan aset atau ROA menggunakan standar terbaik 1,5% dan yang di atas 1,5% akan mendapat poin tambahan dengan maksimal ROA sebesar 3%. Sedangkan, rasio laba dibandingkan dengan modal atau return on equity (ROE) menggunakan standar terbaik 7% atau rata-rata suku bunga satu tahun. ROA dan ROE bobotnya masing-masing 7,5%.

Untuk pertumbuhan laba, penilaiannya menggunakan pendekatan yang berbeda antara BPR dengan aset di atas Rp500 miliar (pertumbuhan terbaik 14%), BPR dengan aset Rp100 miliar hingga Rp500 miliar (pertumbuhan terbaik 35%), BPR dengan aset Rp50 miliar hingga Rp100 miliar (pertumbuhan terbaik 29%), dan BPR dengan aset Rp25 miliar hingga Rp50 miliar (pertumbuhan terbaik 28%). Pertumbuhan laba ini juga menggunakan rata-rata industri di kelompoknya dengan bobot 5%. Jadi, BPR yang labanya di bawah rata-rata industri akan mendapatkan penilaian yang makin rendah.

LIKUIDITAS. Rasio likuiditas menggunakan pendekatan yang sederhana, yaitu berpatokan pada LDR. Jika suatu bank (BPR) memiliki LDR terlalu tinggi, bank tersebut dinilai terlalu ekspansif dan perlu sedikit hati-hati. LDR terbaik menggunakan pendekatan antara 78% dan 100%. Angka itu diambil dari kebijakan BI. Bahkan, BPR dengan LDR di atas 100% tapi tidak memiliki CAR di atas 14% dinilai jelek. Posisi LDR ini diberi bobot 15%.

Peningkatan dana pihak ketiga (DPK) bagi BPR juga menjadi kriteria penilaian. Bobot pertumbuhan DPK sebesar 5% masing-masing tergantung pada ukuran BPR. BPR dengan aset di atas Rp500 miliar standar terbaik pertumbuhan dananya 23%, BPR dengan aset Rp100 miliar hingga Rp500 miliar sebesar 30%, BPR dengan aset Rp50 miliar hingga Rp100 miliar standar terbaiknya 27%, dan BPR beraset Rp25 miliar sampai dengan Rp50 miliar pertumbuhan rata-ratanya 21%.

EFISIENSI. Kategori ini menggunakan dua rasio, yaitu rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO) dan rasio NIM. Rasio ini tidak dikelompokkan berdasarkan aset karena menyangkut rasio yang tidak banyak pengaruhnya dalam pengelolaan. Bank besar ataupun bank kecil harus efisien dengan standar terbaik BO/PO sebesar 92%. Jika ada bank yang memiliki BO/PO di atas 92%, bank tersebut dianggap tak efisien. Sebaliknya, makin kecil rasio BO/PO, berarti bank tersebut makin efisien.

Sejurus dengan itu, ada NIM sebagai indikator efisiensi. Angka NIM terbaik BPR saat ini adalah 10% (rata-rata). Makin besar NIM, makin baik. Sebaliknya, makin kecil NIM, makin buruk. BO/PO dan NIM diberi bobot masing-masing 10%. Kedua rasio ini merupakan dua hal yang sama pentingnya.

Setelah menilai masing-masing kriteria dengan jumlah poin 20%, nilai tersebut akan diberi notasi dengan lima range, yaitu A1, A2, A3, A4, dan A5. Pemberian notasi ini untuk menunjukkan titik lemah dari rasio tersebut. Makin besar angkanya, artinya makin lemah pula rasionya. Rasio dengan angka terendah diberi notasi D5.

Akhirnya, kelima rasio yang menjadi kriteria penting itu dijumlah dan akan menjadi dasar utama untuk menentukan apakah sebuah BPR dapat disebut sangat bagus atau tidak bagus. Contohnya, BPR Supra Artapersada, Sukabumi, dengan nilai 98,76%, mendapat predikat “sangat bagus” karena standar terbaik di atas 81%. Kalau ada BPR yang nilainya sama, pendekatan yang dilakukan adalah rasio modal dan seterusnya menyangkut NPL.

Silakan menghitung sendiri rating BPR Anda secara transparan. Jangan merasa rendah diri dan gusar jika BPR Anda tidak masuk dalam rating BPR terbaik versi Infobank. Ada dua kemungkinan. Pertama, karena BPR Anda asetnya di bawah Rp25 miliar (maka tidak dinilai). Ada 1.268 BPR yang asetnya masih di bawah Rp25 miliar.

Kedua, BPR Anda asetnya di atas Rp25 miliar (tetap tidak di-rating. Ada dua kemungkinan juga kenapa tidak di-rating: BPR Anda tidak mengirimkan laporan keuangan ke website BI atau BPR Anda memang perlu diperbaiki. Sekali lagi, ini rapor sesaat yang bisa berubah pada 2012. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *