Headline, Perbankan

Rumus Terbaru Rating 120 Bank Versi Infobank

Biro Riset Infobank menggunakan pendekatan rasio keuangan penting dan pertumbuhan dalam “Rating 120 Bank Versi Infobank 2012”. Kriteria rasio dan pertumbuhan menggunakan rata-rata industri perbankan. Mengapa bank diberi predikat “sangat bagus” dan “tidak bagus”? Tim Biro Riset Infobank

Seperti perkiraan sebelumnya, bank-bank akan memanen laba yang ranum pada 2011. Penurunan suku bunga dana ternyata pula memberi kontribusi yang besar terhadap pendapatan bunga. Ya, karena gap penurunan suku bunga dana dengan kredit berlangsung lebih lama.

Imbauan Bank Indonesia (BI) untuk terus menurunkan suku bunga ternyata hanya menghasilkan efisiensi penurunan cost of fund lebih cepat dibandingkan dengan suku bunga kredit. “Intervensi” BI agar bank-bank melakukan efisiensi perlahan terjadi. Namun, karena volume ekspansi kredit meningkat, maka hasil akhir tetap besar.

Laba perbankan pada 2012 diperkirakan masih tetap besar karena pasar yang dibiayai perbankan juga masih menghasilkan net interest margin (NIM) yang besar. Sektor konsumsi, termasuk di dalamnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), akan terus menelurkan keuntungan bunga besar. Peternakan laba bank ada pada sektor konsumsi dan UMKM.

Dalam rating tahun ini Biro Riset Infobank (birI) mencatat sebagian besar bank meraih pertumbuhan kredit dan pertumbuhan laba. Juga, pertumbuhan dana masyarakat dengan harga sedikit miring. Tahun ini bank yang di-rating sebanyak 120 atau sama dengan tahun sebelumnya.

Jumlah bank di Indonesia dari tahun ke tahun menurun karena merger ataupun dilikuidasi. Ketika rating versi Biro Riset Infobank pertama kali diluncurkan pada 1996, jumlah bank masih 240 buah. Ke depan jumlah bank diperkirakan masih akan menyusut akibat merger antarbank, baik karena ketentuan kepemilikan tunggal (single presence policy atau SPP) maupun untuk memperkuat modal. Bahkan, akibat aturan baru tentang kepemilikan bank yang akan menggerus kepemilikan. Jual-beli bank akan marak.

Seperti tahun sebelumnya, Biro Riset Infobank masih menggunakan pendekatan modal sesuai dengan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) untuk pengelompokan bank. Pengelompokan bank meliputi bank dengan modal di atas Rp50 triliun; bank dengan modal di atas Rp10 triliun sampai dengan Rp50 triliun; dan bank dengan modal Rp100 miliar sampai dengan Rp10 triliun, yang dibagi lagi menjadi bank dengan modal Rp100 miliar sampai dengan di bawah Rp1 triliun dan bank dengan modal Rp1 triliun sampai dengan Rp10 triliun. Pemecahan kelompok bank dengan modal Rp100 miliar sampai dengan Rp10 triliun ini dilakukan karena jarak antara Rp100 miliar dan Rp10 triliun dinilai terlalu jauh.

Ada lima langkah utama yang dilakukan Biro Riset Infobank sehingga mampu menentukan rating dengan predikat sampai pula menentukan peringkat. Pertama, menentukan formula rating yang didasarkan pada perkembangan perbankan dan kebijakan BI serta pencapaian perbankan secara industri. Seperti biasa, pada tahap ini dilakukan diskusi dengan kalangan perbankan dan pengamat sehingga mendapatkan formula yang matang. Rating tahun ini menggunakan kriteria rasio keuangan penting dan pertumbuhan selama setahun terakhir.

Kedua, mengumpulkan laporan keuangan bank-bank, yang terdiri atas neraca dan laba-rugi selama dua tahun. Bank yang hanya memiliki laporan keuangan satu tahun tidak di-rating karena tidak ada pertumbuhannya. Tahun ini semua bank di-rating.

Laporan keuangan diambil dari media massa, baik lokal maupun nasional. Jika tidak menemukan di media massa, Biro Riset Infobank meminta langsung kepada bank bersangkutan. Batas pengumpulan laporan keuangan ditetapkan sampai dengan pertengahan Mei 2012.

Pada tahap pengumpulan data, manakala laporan keuangan neraca dan rugi-laba terkumpul, Biro Riset Infobank tidak perlu lagi meneliti lebih dalam, misalnya apakah ada rekayasa laporan keuangan dan window dressing atau tidak, juga apakah ada plafondering atau tidak. Patokan kami, semua neraca itu sudah diaudit akuntan publik. Karena itu, seluruh laporan keuangan dianggap benar tanpa kecuali. Meski begitu, tak jarang kami mengecek perbandingan jumlah aktiva dengan pasivanya, yang terkadang memang tidak berimbang.

Ketiga, mengolah angka-angka dengan berbagai rasio dan pertumbuhan yang sudah ditetapkan. Hasilnya dikaitkan dengan bobot yang telah diberikan sebelumnya. Pemberian bobot ini dilakukan seragam antara komponen yang satu dan yang lain. Hanya beberapa rasio yang dinilai tidak teramat penting mendapat bobot yang lebih ringan. Tahun ini pembobotan masih lebih berat ke rasio keuangan dibandingkan dengan pertumbuhan.

Keempat, memberi notasi akhir untuk menentukan predikat. Setelah nilai terkumpul, pemeringkatan pun dilakukan. Itu hanya untuk memudahkan membaca, dan bagi Biro Riset Infobank dari semua rating itu adalah predikat, bukan nomor urut. Namun, kalau pembaca menganggap hal ini penting, itu menjadi soal lain.

Kelima, memasukkan bank-bank sesuai dengan ukuran permodalan berdasarkan konsep API. Setelah itu, keluar nama predikat dan peringkat sesuai dengan nilai yang diperoleh.

Rating bank versi Infobank 2012 yang didasarkan atas kinerja bank 2011 ini menggunakan lima kriteria utama yang terbagi ke dalam tujuh rasio keuangan dan empat pertumbuhan. Indikator itu, antara lain rasio permodalan, kualitas aset, rentabilitas, dan likuiditas serta efisiensi dan pertumbuhan dana, kredit, modal, dan laba. Rumus-rumus rating Infobank dinamakan Software Rating Bank Biro Riset Infobank.

Seperti tahun sebelumnya, kriteria tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tahun ini loan to deposit ratio (LDR) mengikuti aturan BI dengan batas ideal 78%-100%—di atas 100% pun masih harus memiliki capital adequacy ratio (CAR) di atas 14%. (Lihat Tabel Kriteria Penilaian Rating 120 Bank).

Kriteria penilaian yang digunakan Biro Riset Infobank berbeda dengan yang digunakan BI. BI menilai kesehatan bank mengacu pada unsur-unsur capital, assets quality, management, earning, and liquidity (CAMEL), sedangkan Biro Riset Infobank menerapkan kriteria-kriteria yang umum digunakan untuk mengukur kinerja keuangan sebuah bank minus pelanggaran dan manajemen.

Harus diakui, ini juga merupakan kelemahan lain jika ingin melihat seluruh kondisi sebuah bank. Biro Riset Infobank tidak mencantumkan unsur manajemen karena memang tidak mampu melihatnya dari luar. Itulah yang terkadang banyak mengundang kritik. Rating ini bukanlah penilaian kesehatan sebuah bank. Yang ingin dikatakan di sini adalah penerjemahan atas rasio-rasio keuangan bank sebagaimana tertera pada laporan keuangannya.

Kriteria dan pembobotan dari tujuh rasio keuangan dan pertumbuhan yang tercakup dalam lima bagian besar, antara lain sebagai berikut.

PERMODALAN. Di kelompok permodalan terdapat dua indikator dengan bobot berbeda. Pertama, posisi CAR. Penghitungan CAR diperoleh dari membandingkan modal sendiri dengan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) yang dihitung bank bersangkutan. Ukuran CAR terbaik ditetapkan sebesar 8%. Itu sebuah ketentuan baku dan lazim di dunia perbankan. Bobot CAR adalah 20%.

Hitungannya begini. Bank dengan CAR di bawah 8% nilainya 0%; CAR 8% sampai dengan 12% nilainya 81%; dan CAR 12% sampai dengan 20% (rata-rata perbankan) nilainya 81% ditambah poin tertentu sampai dengan maksimal 19%. Nilai 100% jika sebuah bank mempunyai CAR di atas 20%. Posisi CAR ini bobotnya 15% dan pertumbuhan modal bobotnya 5%.

KUALITAS ASET. Ada dua rasio yang digunakan dalam menilai kualitas aset. Pertama, indikator kualitas aset yang dipakai adalah rasio kredit yang diberikan bermasalah dengan total kredit atau biasa disebut NPL. Hitungan NPL di sini sebelum mempertimbangkan penyisihan. Artinya, NPL (kategori 3, 4, dan 5) gross atau belum dikurangi penyisihan. Nah, NPL terbaik adalah bila berada di bawah 5%. Makin kecil NPL, makin besar nilainya dengan angka tertinggi 100%. NPL antara 5% dan 8% diberi nilai maksimum 19% atau setiap penurunan 0,03% diberi nilai 1% dari 8%. NPL terburuk adalah 8% (rata-rata industri). Bobotnya sebesar 15%.

Kedua, pertumbuhan kredit juga menjadi kriteria. Pertumbuhan terbaik adalah di atas rata-rata industri dan kelompok banknya dengan bobot 5%.

RENTABILITAS. Acuannya adalah return on asset (ROA) dan return on equity (ROE). Angka ROA dihitung berdasarkan perbandingan laba bersih dengan rata-rata aset total dengan standar terbaik 1,5%, sementara angka ROE diperoleh dengan membandingkan laba bersih dengan rata-rata modal sendiri dengan standar terbaik 7%. Itu diambil dari rata-rata suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Bobot rentabilitas ini 20%, yang terdiri atas bobot ROA 7,5%, bobot ROE 7,5%, dan 5% untuk pertumbuhan laba yang dihitung berdasarkan rata-rata industri dan kelompoknya.

LIKUIDITAS. Patokannya adalah LDR dan pertumbuhan kredit dibandingkan dengan pertumbuhan dana. Angka LDR diperoleh dengan membandingkan kredit yang diberikan dengan seluruh dana yang dihimpun. Standar terbaik LDR adalah di atas 78%-100%. Jika sebuah bank mempunyai LDR di atas 100%, tetap diberi nilai terbaik asal CAR-nya di atas 14%—artinya ekspansinya masih dibiayai modal pemiliknya. Bobot LDR sebesar 15% dan pertumbuhan dana sebesar 5%. Jadi, bobot likuiditas adalah 20%.

EFISIENSI. Indikator efisiensi yang digunakan adalah NIM dan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO). Kalkulasi NIM didapat dari membandingkan pendapatan bunga bersih dengan rata-rata aktiva produktif. Angka terbaik sebesar 6%, yang diperoleh dari rata-rata perbankan. Rasio BO/PO sebesar 92%, seperti yang lazim dipakai BI. Bobot efisiensi sebesar 20%, yang terdiri atas bobot NIM 10% dan bobot BO/PO 10%.

Rating tahun ini selain menggunakan rasio keuangan utama juga kembali memasukkan unsur pertumbuhan. Hal itu didasarkan pada sikap fairness terhadap bank yang mampu tumbuh dengan baik secara berkualitas. Jadi, bank harus tumbuh dengan baik di atas rata-rata industri sekaligus mampu menjaga rasio keuangannya.

Pemberian bobot diakui sering menimbulkan perdebatan di kalangan bankir. Namun, semua itu diputuskan secara independen berdasarkan kesepakatan Tim Biro Riset Infobank sebelum data diolah. Untuk rating kali ini, dasarnya adalah latar belakang dan lingkungan berusaha pada 2010 dan 2011. Namun, prinsipnya, masing-masing rasio, yakni likuiditas, rentabilitas, efisiensi, kualitas aset, dan permodalan, memang sama besar, yaitu 20%.

Langkah pemberian notasi menjadi sangat penting sebab sebelum mencapai predikat harus diberi notasi terlebih dahulu. Pada tahap pemberian nilai, yang dilakukan Biro Riset Infobank adalah mengalikan hasil perolehan rasio dengan bobot yang sudah ditentukan sebelumnya. Pengalian itu menghasilkan nilai sementara yang menjadi cikal dari notasi.

Lebih lanjut, nilai tersebut diberi notasi dengan rentang 0 hingga 20. Tujuan pemberian notasi ini adalah agar bisa diterjemahkan dengan label A1 sampai dengan D5. Contohnya begini: sebuah bank punya nilai terendah di salah satu rasio, misalnya CAR, maka nilai bank tersebut adalah 0 dan diberi notasi D5. Sebaliknya, seandainya bank tersebut bernilai 20, rasio CAR-nya diberi notasi A1. Namun, kalau nilainya 9,99, notasinya C1.

Menentukan sebuah bank berpredikat “sangat bagus” atau sebaliknya tidaklah sulit. Notasi-notasi kelima rasio itu diterjemahkan kembali ke dalam angka-angka yang kemudian dijumlahkan. Nah, setelah mendapatkan nilai akhir, selanjutnya dimasukkan ke dalam kriteria predikat.

Bank yang memiliki nilai di atas atau sama dengan 81% diberi predikat “sangat bagus”. Di bawah 81% sampai dengan sama dengan 66% diberi predikat “bagus”. Predikat “cukup bagus” disematkan kepada bank yang mempunyai nilai sama dengan 51% sampai dengan di bawah 66%. Nilai di bawah 51% berpredikat “tidak bagus”.

Contohnya, Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) memperoleh notasi akhir A1A1A1A1A1 dengan nilai 99,59%, maka ia berhak mendapatkan predikat “sangat bagus”. Sebaliknya, Bank ICB Bumiputera yang memperoleh notasi akhir B3C3D5A1C1 dengan nilai 43,25% berhak atas predikat “tidak bagus”.

Setelah pemberian nilai akhir, tahap selanjutnya ketika sudah diberi predikat adalah melakukan pemeringkatan. Tentu setelah digolongkan berdasarkan modal sesuai dengan konsep API. Hal ini selain untuk memudahkan pembaca, juga sekadar membandingkan posisi antarbank pesaing. Namun, sesungguhnya, rating bank versi Infobank ini lebih mementingkan predikat dibandingkan dengan peringkat. Pemeringkatan bukan tanpa masalah karena banyak bank yang nilainya sama.

Untuk mengatasi hal itu, dilakukan pengukuran kembali dengan melihat posisi CAR-nya. Jadi, jika ada bank yang sama, tapi CAR-nya berlainan, bank yang CAR-nya lebih besar akan menduduki peringkat yang lebih baik. Jika masih sama, dengan menggunakan pendekatan NPL. Kalau masih sama juga, dengan pendekatan LDR.

Sekali lagi, angka-angka yang digunakan merupakan angka past performance. Sehingga, misalnya kinerja bank Anda tahun lalu tidak bagus, tahun ini bisa saja sangat bagus. Silakan menghitung sendiri predikat bank Anda dengan menggunakan formula yang sudah disediakan. Mengapa bank Anda berpredikat bagus sementara bank lain sangat bagus, bisa Anda tentukan sendiri. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *