Headline, Keuangan

Kriteria Penting Rating 170 Multifinance

Ada 12 kriteria yang menentukan sebuah perusahaan pembiayaan dikatakan mempunyai kinerja “sangat bagus” atau “tidak bagus”. Apa saja kriteria penting itu agar bank mendekat ke perusahaan pembiayaan Anda? Mengapa kinerja perusahaan pembiayaan merosot? Biro Riset Infobank

Jumlah perusahaan pembiayaan (multifinance) yang di-rating Biro Riset Infobank (birI) tahun ini bertambah. Namun, dari sisi kinerja justru mengalami gangguan. Tahun lalu yang di-rating sebanyak 148 perusahaan dan tahun ini sebanyak 163 perusahaan dari 170 perusahaan pembiayaan. Kemerosotan kinerja ini disebabkan oleh mulai mentoknya perusahaan pembiayaan beraset besar.

Ada beberapa hal yang membuat perusahaan pembiayaan kinerjanya sedikit terganggu. Salah satunya efek pemburukan ekonomi yang masih terasa dan meningkatnya biaya-biaya. Hal ini bisa jadi akibat ekspansi yang berlebihan yang belum menghasilkan laba. Bahkan, pada 2012 industri multifinance akan menghadapi tantangan besar.

Kriteria rating yang ditetapkan Biro Riset Infobank dalam rating 170 multifinance ini menyangkut dua hal, yaitu pertumbuhan dan rasio keuangan. Biro Riset Infobank berpendapat, dengan dua pendekatan itu dapat melihat perusahaan pembiayaan lebih mendekati kenyataan dari sisi kinerja keuangan.

Kriteria pertama, yaitu (1) pertumbuhan, menyangkut pertumbuhan aset, pembiayaan, modal sendiri, dan laba. Sedangkan, kriteria rasio menyangkut (2) rasio pembiayaan terhadap aset dan rasio pembiayaan terhadap kewajiban, (3) rasio modal sendiri terhadap total aset, (4) rasio kewajiban terhadap total aset dan rasio kewajiban terjadap modal sendiri, (5) rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO), (6) return on average asset (ROA), dan return on average equity (ROE).

“Rating 170 Multifinance Versi Infobank 2012” didasarkan pada laporan keuangan perusahaan pembiayaan 2010 dan 2011, yang terdiri atas neraca dan laba (rugi). Rating ini tidak memperhitungkan sisi kualitatif, seperti manajemen dan pelayanan yang diberikan perusahaan pembiayaan kepada nasabahnya. Hal ini karena keterbatasan informasi tentang data-data kualitatif yang dapat diperoleh.

Jadi, penilaian ini hanyalah semacam potret keuangan sesaat dan tentunya mengandung banyak kelemahan. Apalagi, ketika rating ini dibuat dengan jarak laporan keuangan itu dikeluarkan sering kali menimbulkan perdebatan. Tidak hanya itu. Biro Riset Infobank juga tidak mengecek kembali apakah laporan keuangan itu benar tanpa lipstik agar tampak cantik, dalam arti sesuai dengan kondisi perusahaan, tanpa rekayasa.

Hanya laporan keuangan satu-satunya sumber informasi yang diperoleh masyarakat karena memang ketentuan pemerintah yang mewajibkan perusahaan pembiayaan mengumumkan laporan keuangannya. Itu pun terkadang laporan keuangannya tidak seragam. Ada perusahaan yang mencantumkan biaya dan pendapatan secara lengkap, tapi banyak juga yang tidak lengkap dan membingungkan.

Ada beberapa tahap yang dilakukan Biro Riset Infobank dalam menentukan kinerja keuangan perusahaan pembiayaan. Pertama, menetapkan kriteria yang didasarkan pada hasil diskusi panjang dengan pelaku, pengamat, dan kajian yang ada di Biro Riset Infobank. Penetapan kriteria ini menyangkut pembobotan dan sekaligus predikat serta penggolongan berdasarkan standar deviasi.

Ada tiga penggolongan berdasarkan besarnya pembiayaan, yaitu perusahaan pembiayaan besar (di atas Rp1 triliun), menengah (antara Rp100 miliar dan Rp1 triliun), dan kecil (di bawah Rp100 miliar). Penggolongan ini berdasarkan standar deviasi dari angka-angka industri multifinance.

Kedua, pencarian bahan, berupa laporan keuangan di media massa dan perusahaan bersangkutan serta dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Tahap ini merupakan tahap paling sulit karena laporan keuangan perusahaan pembiayaan tidak seragam dan sering membingungkan yang membacanya.

Ketiga, mengolah data-data dan dikaitkan dengan rumus-rumus yang sudah dibuat. Pada tahap ini perusahaan pembiayaan digolongkan pada ukurannya dengan kriteria ideal masing-masing kelompok.

Kriteria dan pembobotan dari empat pertumbuhan kinerja keuangan dan delapan rasio keuangan penting, yaitu sebagai berikut:

PERTUMBUHAN. Untuk pertumbuhan terdapat empat indikator dengan bobot yang seragam masing-masing 5%. Empat indikator pertumbuhan itu meliputi pertumbuhan aset, pembiayaan, modal sendiri, dan laba.

Untuk pertumbuhan aset, perusahaan pembiayaan besar indikator terbaiknya sebesar 28%, perusahaan pembiayaan menengah 22%, dan perusahaan pembiayaan kecil 5%. Semua diambil dari rata-rata kelasnya.

Untuk pertumbuhan pembiayaan, perusahaan pembiayaan besar standar terbaiknya 35%, perusahaan pembiayaan menengah 19%, dan perusahaan pembiayaan kecil 5%. Sedangkan, untuk pertumbuhan modal sendiri, ukuran terbaik perusahaan pembiayaan besar indikator terbaiknya 19%, perusahaan pembiayaan menengah 35%, dan perusahaan pembiayaan kecil 5%.

Untuk pertumbuhan laba, perusahaan pembiayaan besar paling tidak harus mampu menaikkan laba sebesar 10%, perusahaan pembiayaan menengah 19%, dan perusahaan pembiayaan kecil 10%.

Perusahaan pembiayaan yang angkanya di atas rata-rata mendapatkan poin 100 dan di bawah rata-rata mendapatkan poin 0. Pemberian nilai ini berlaku bagi seluruh kategori perusahaan pembiayaan: besar, menengah, dan kecil.

RASIO PEMBIAYAAN. Ada dua rasio pembiayaan, yaitu rasio pembiayaan dibandingkan dengan total aset dan rasio pembiayaan terhadap kewajiban. Untuk rasio pembiayaan dibandingkan dengan total aset diberi bobot 10% dengan standar terbaik 85% yang diperoleh dari rata-rata industri. Dengan bobot yang sama sebesar 10%, untuk rasio pembiayaan terhadap kewajiban dengan rasio terbaik 85% sampai dengan 110%. Rasio ini berlaku sama bagi seluruh kategori perusahaan pembiayaan.

RASIO MODAL. Rasio modal sendiri yang digunakan dalam rating multifinance ini yaitu membandingkan modal sendiri dengan total aset. Ada tiga kategori, yaitu perusahaan pembiayaan besar, perusahaan pembiayaan menengah, dan perusahaan pembiayaan kecil. Bobot rasio modal ini sebesar 10% dan standar terbaik yang digunakan berdasarkan rata-rata kelas perusahaan pembiayaan: perusahaan pembiayaan besar 18%, perusahaan pembiayaan menengah 37%, dan perusahaan pembiayaan kecil 56%.

RASIO KEWAJIBAN. Rasio kewajiban ini menggunakan dua kriteria, yaitu rasio kewajiban dibandingkan dengan total aset dengan bobot penilaian sebesar 5% dan rasio kewajiban terhadap modal sendiri dengan bobot 15%. Rasio terbaik dari rasio kewajiban dibandingkan total aset sebesar 80% yang diperoleh dari rata-rata, sedangkan rasio terbaik kewajiban terhadap modal sebesar kurang dari 1.500%. Untuk perusahaan yang rasionya di atas 1.500% nilainya 0.

RASIO EFISIENSI. Rasio yang digunakan untuk mengukur efisiensi ini yaitu membandingkan biaya operasional dengan pendapatan operasional. Bobot dari efsiensi ini adalah 10% dengan standar terbaik di bawah 92%. Untuk rentang 92% sampai dengan 100% tergantung pada besarnya rasio ini dan di atas 100% dinilai 0.

RASIO RENTABLITAS. Ada dua rasio rentabilitas yang digunakan dalam rating multifinance ini, yaitu ROA dan ROE. Standar terbaik ROA sebesar 1,5% dan ROE sebesar 7%, yang diperoleh dari rata-rata bunga investasi di deposito selama 2009. Perusahaan dengan ROA di atas 1,5% mendapatkan nilai 100 dan yang ROE-nya di atas 7% mendapat nilai 100%. Untuk kriteria ROA dan ROE ini masing-masing bobotnya 10%.

Nah, setelah memasukkan data-data ke dalam rumus dan memberi bobot, akan ke luar nilai di masing-masing kriteria. Langkah selanjutnya adalah menjumlahkan hasil yang diperoleh dari masing-masing kategori sehingga didapat total nilai yang menunjukkan hasil akhir dan diterjemahkan secara kualitatif: “sangat bagus”, “bagus”, “cukup bagus”, serta “tidak bagus”. Predikat “sangat bagus” nilainya antara 81% dan 100%, “bagus” 66% sampai dengan kurang dari 81%, “kurang bagus” antara 51% dan kurang dari 66%, dan “tidak bagus” nilainya di bawah 51%. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *