Headline, Perbankan

Serikat Pekerja Minta Penyidikan Fraud PaninBank Banjarmasin Diteruskan

Penyidikan indikasi fraud di Kantor Bank Panin Cabang Banjarmasin diharapkan Federasi Serikat Pekerja Niaga, Bank, Jasa dan Asuransi bisa dilanjutkan, mengingat kejahatan kerah putih bukan hanya bisa dilakukan oleh satu orang. Paulus Yoga

Jakarta–Federasi Serikat Pekerja Niaga, Bank, Jasa dan Asuransi, berharap kasus penipuan (fraud) di kantor cabang PT Bank Panin Tbk di Banjarmasin yang berujung pemecatan pegawainya kembali dibuka.

Kasus bermula saat Yus Rusyana, korban PHK, bersama timnya ditugaskan direksi Bank Panin untuk melakukan audit Kantor Cabang Banjarmasin pada Januari 2010. Setelah melakukan pemeriksaan, ditemukan indikasi fraud dalam proses pemberian kredit (rekayasa kredit) sekitar Rp30 miliar.

“Ada kredit fiktif di Panin Banjarmasin. Ada permainan,” tukas Ketua Federasi Serikat Pekerja Niaga, Bank, Jasa dan Asuransi Lilik Martono, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Jakarta, Kamis, 31 Januari 2013.

Dalam kronologis yang disampaikan ke DPR, sebagaimana disampaikan wakil Yus Rusyana ini, disebutkan bahwa direksi Bank Panin telah memberikan kuasa untuk melaporkan rekayasa kredit yang terjadi di Kantor Cabang Banjarmasin ke Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Selatan untuk diproses.

Pada 22 Februari 2010, indikasi dugaan tindak pidana perbankan lewat rekayasa kredit tersebut dilaporkan ke Polda Kalimantan Selatan, yang ditegaskan dengan tanda bukti lapor (TBL) surat TBL/29/II2010/KALSEL/DITRESKRIM.

Namun lacur, meninggalnya tersangka rekayasa kredit, yakni Pemimpin Cabang Banjarmasin (Alm) Herman Kusuma, saat proses penyidikan belum rampung membuat pihak kepolisian mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Sementara diharapkan penyidikan kasus fraud bisa dilanjutkan untuk menyeret oknum lain yang terlibat.

“Karena dalam kejahatan perbankan UU Nomor 10 Tahun 1998, bahwa kejahatan kerah putih bukan hanya bisa dilakukan oleh satu orang. Itu pasti ada beberapa pejabat bank. SP3 itu menyangkut kepala cabangnya saja yang stroke mati pada saat pengadilan. Itu dianggap SP3,” tandas Lilik. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *