Masih muramnya perekonomian di Amerika Serikat dan Eropa, dinilai Otoritas Jasa Keuangan akan membuat para investor melirik Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi stabil dan fundamental ekonomi yang kuat. Paulus Yoga
Jakarta–Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai aliran dana asing masih akan deras masuk ke Indonesia, khususnya di pasar modal, dalam jangka waktu yang cukup lama kendati aliran dana investor asing sudah mencapai Rp10,4 triliun, naik 89% di sepanjang tahun ini.
Menurut Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Rahmat Waluyanto, ada beberapa alasan yang membuat investor asing memilih Indonesia sebagai salah satu tujuan investasinya. Hal pertama adalah sentimen global yang masih kurang prospektif.
“Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) masih belum secepat seperti sebelum terjadi krisis 2008, sehingga otoritas AS masih mengimplementasikan kebijakan suku bunga rendah untuk menggerakkan ekonominya,” ucapnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis, 14 Februari 2013.
Selain itu, lanjutnya, kondisi perekonomian Eropa yang masih dibekap krisis utang juga menjadi salah satu pemicu para investor mencari negara yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Dalam hal ini adalah negara-negara yang memiliki fundamental ekonomi yang baik, seperti negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2012 memang tidak setinggi yang diharapkan, akan tetapi nilainya yang di kisaran 6,3%, masih lebih tinggi dan lebih positif dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara maju,” tukasnya.
Fundamental ekonomi Indonesia yang masih dalam prospek positif membuat nilai beli bersih investor asing tidak hanya terjadi di pasar saham namun juga di pasar surat utang. Fenomena capital inflow itu dinilai Rachmat masih akan terus berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama karena permasalahan ekonomi di AS dan Eropa memerlukan waktu perbaikan yang tidak sebentar.
“Aliran dana asing juga kemungkinan masih akan cukup besar terjadi di sektor keuangan walaupun tidak sebesar tahun sebelumnya. Kami sendiri dari OJK berharap aliran dana asing ini tidak hanya masuk ke investasi portofolio saja namun juga dapat dipergunakan sebagaimana mestinya, seperti mendorong perusahaan untuk melakukan penawaran saham perdana (initial public offering) di pasar modal,” tuturnya.
Demikian, aliran dana asing tersebut dapat dipergunakan oleh calon emiten untuk pendanaan yang efek dominonya berguna untuk pengembangan sektor riil di Indonesia. OJK juga mengaku tidak khawatir derasnya aliran dana asing tersebut akan melemahkan pasar modal Indonesia di kemudian hari.
“Kami terus memantau perkembangan industri dan kami bersama BI dan lembaga lain yang tergabung dalam Forum Kebijakan Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) juga telah memiliki protokoler manajemen krisis (CMP),” tutupnya. (*)












