Besarnya defisit transaksi berjalan karena tingginya impor minyak memberikan sinyal buruk bagi pasar domestik dan dunia internasional. Rully Ferdian
Jakarta–Anggota Komisi XI DPR RI Kemal Azis Stamboel menilai, Neraca Pembayaran Indonesia 2012 yang surplus harus disikapi secara kritis-konstruktif.
“Kondisi keseimbangan eksternal kita terlihat membaik. Kita bisa lihat dari Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tahun 2012 yang surplus US$0,2 miliar. Bahkan di triwulan IV mampu membukukan surplus sebesar US$3,2 miliar, lebih tinggi dibandingkan surplus US$0,8 miliar pada triwulan sebelumnya pada tahun yang sama. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah surplus NPI ini hanyalah good luck atau good policy?”, kata Kemal, dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis, 14 Februari 2013.
Kemal melihat surplus NPI tahun 2012 sedikit banyak karena menuai keuntungan limpahan investasi negara-negara maju.
“NPI kita cukup terbantu dengan tingginya investasi yang masuk, baik itu karena investasi langsung maupun investasi portfolio,” ujarnya.
Hal ini, lanjutnya, terjadi karena negara-negara maju sedang dilanda krisis ditambah lagi mereka melakukan kebijakan moneter yang ekspansif seperti quantitative easing sehingga menyebabkan negara-negara maju kelebihan likuiditas dan membutuhkan tempat investasi yang aman serta memberikan prospek return yang menjanjikan.
“Indonesia dengan memiliki stabilitas makroekonomi yang baik serta pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua setelah China tentunya menjadi tempat sangat menarik untuk investasi,” jelas Kemal.
Menurutnya, poin lain yang perlu dicermati adalah defisit transaksi berjalan yang cukup besar. Pada 2012 mencapai US$ 24,2 miliar atau sekitar 2,7% dari PDB. Bahkan di triwulan IV 2012 defisitnya sudah menembus batas aman 3% yakni 3,6% dari PDB atau sekitar US$7,8 miliar.
“Defisit transaksi berjalan ini cukup mengkhawatirkan. Dan kalau kita bedah lagi, tingginya defisit ini salah satu penyebab utamanya adalah tingginya impor minyak. Total transaksi minyak kita di tahun 2012 mengalami defisit sekitar US$20,3 miliar,” tegasnya.
Menurut politisi PKS ini, besarnya defisit transaksi berjalan karena tingginya impor minyak memberikan sinyal buruk bagi pasar domestik dan dunia internasional.
“Sebenarnya, defisit transaksi berjalan itu tidak masalah selama defisit kita untuk memperkuat kapasitas domestik seperti pada kasus impor barang modal. Terlebih tren pertumbuhan ekonomi kita meningkat memang membutuhkan importasi barang-barang modal untuk mendorong investasi. Namun, dalam kasus ini agak berbeda. Tingginya impor minyak memunculkan pertanyaan, apakah tata kelola kebijakan di sektor energi, fiskal, moneter dan ekspor-impor sudah berjalan dengan baik?” ujarnya.
Oleh karena itu Kemal meminta pemerintah dan Bank Indonesia untuk melakukan meninjau kembali kebijakan-kebijakan yang belum berjalan optimal.
“Di sisi fiskal, pemerintah seharusnya berani secara tegas melakukan penyesuaian harga BBM untuk mengerem laju penyelundupan BBM dan konsumsi domestik yang tinggi. Parlemen sudah memberikan diskresi ini kepada pemerintah dengan dibukannya kemungkinan di UU tentang APBN 2013,” ujarnya.
Dari sisi energi, tambahnya, pemerintah harus mampu mengatasi menurunya produksi minyak yang secara terus menerus dengan mencari-cari sumber baru serta mendorong energy mixed policy bisa berjalan sesuai dengan roadmap yang telah disepakati.
“Dari sisi moneter, BI harus mampu memaksa para eksportir kita memarkir devisa hasil ekspornya ke dalam negeri. Ada sekitar US$ 22 miliar devisa hasil ekspor kita masih parkir di luar negeri, ini sangat disayangkan,” ujarnya. (*












Pingback: Neraca Pembayaran Surplus, Good Luck Atau Good Policy? « Bukanmain