Moneter dan Fiskal

Neraca Pembayaran Surplus USD3,2 Miliar pada Triwulan IV-2012

Pada triwulan empat tahun 2012, Bank Indonesia mencatat neraca pembayaran mengalami surplus sebesar USD3,2 miliar yang ditopang oleh surplus neraca transaksi modal dan finansial, kendati defisit neraca transaksi berjalan bertambah besar akibat konsumsi BBM. Paulus Yoga

Jakarta–Bank Indonesia (BI) mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami surplus sebesar USD3,2 miliar pada triwulan empat 2012, meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang hanya surplus USD0,8 miliar.

“Perbaikan kinerja NPI terjadi karena surplus transaksi modal dan finansial meningkat dalam jumlah yang lebih besar daripada kenaikan defisit transaksi berjalan,” tukas Direktur Grup Hubungan Masyarakat BI Difi A. Johansyah dalam siaran pers di Jakarta, Rabu, 13 Februari 2013.

Sejalan dengan itu, lanjutnya, jumlah cadangan devisa pada akhir Desember 2012 bertambah menjadi USD112,8 miliar, atau setara dengan 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

“Kepercayaan investor yang tetap terjaga dengan baik, didukung oleh tambahan likuiditas di pasar keuangan global yang bersumber dari ekspansi moneter di negara-negara maju, menyebabkan transaksi modal dan finansial pada triwulan empat 2012 kembali mengalami surplus,” tuturnya.

Bank sentral mencatat surplus neraca transaksi modal dan finansial mencapai USD11,4 miliar, hampir dua kali lipat dari surplus USD6 miliar pada triwulan sebelumnya. Kenaikan surplus ini antara lain bersumber dari meningkatnya arus masuk investasi portofolio asing dalam bentuk pembelian surat berharga negara, baik berdenominasi rupiah maupun valuta asing (valas).

Arus masuk juga terjadi dalam bentuk penarikan dana milik perbankan domestik yang disimpan di luar negeri sebagai respon terhadap meningkatnya kebutuhan valas di dalam negeri. Selain itu, investasi langsung asing (PMA) masih mengalir masuk dalam jumlah yang hampir sama dengan triwulan sebelumnya.

Dari sisi neraca transaksi berjalan, sambung Difi, mengalami defisit sebesar USD7,8 miliar atau setara dengan 3,6% PDB pada triwulan empat 2012, lebih besar dari defisit sebesar USD5,3 miliar atau setara 2,4% dari PDB pada triwulan sebelumnya.

“Proses pemulihan ekonomi global yang berjalan lambat, di tengah permintaan domestik yang masih kuat, telah memperlebar defisit transaksi berjalan triwulan empat 2012, terutama akibat menurunnya surplus neraca perdagangan non-migas dan meningkatnya defisit neraca perdagangan migas,” terangnya.

Di sektor non-migas, imbuhnya, meskipun pertumbuhan permintaan global sedikit membaik dan pertumbuhan permintaan domestik melambat, kesenjangan di antara keduanya masih cukup lebar sehingga kenaikan ekspor relatif tidak signifikan dibandingkan dengan kenaikan impor.

“Di sektor migas, kenaikan ekspor juga tidak dapat mengimbangi kenaikan impor karena konsumsi BBM untuk keperluan transportasi terus meningkat,” pungkasnya. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *