Headline, Moneter dan Fiskal

Permintaan Valas Tinggi Picu Pelemahan Rupiah

Sentimen positif muncul dari risiko global yang mengalami moderasi menyusul positifnya perkembangan terkini di AS dan tercapainya kesepakatan guna menghindari fiscal cliff. Rully Ferdian

Jakarta–Selama Januari 2013 nilai tukar rupiah cenderung terdepresiasi, namun dengan volatilitas yang relatif stabil. Nilai tukar rupiah secara rata-rata melemah 0,22% (month to month/mtm) ke level Rp9.654 per dolar AS dari Rp9.633 per dolar AS pada bulan sebelumnya.

Demikian laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI), yang dikeluarkan di Jakarta, Selasa, 12 Februari 2013.

Sementara itu, dilihat secara point to point (ptp) nilai tukar rupiah melemah sebesar 0,62% menuju ke level Rp9.698 per dolar AS dari posisi akhir bulan sebelumnya Rp9.638 per dolar AS.

Melemahnya rupiah dipicu oleh masih tingginya permintaan valuta asing (valas) domestik, baik dari korporasi maupun nasabah, di tengah pasokan yang terbatas. Hal tersebut mendorong meningkatkan ketidakseimbangan di pasar valas domestik.

Di samping itu, pemelmahan nilai tukar rupiah juga disebabkan oleh meningkatkan tekanan terhadap kinerja transaksi berjalan yang disebabkan oleh pertumbuhan ekspor yang masih terbatas dan impor yang masih tinggi, sejalan dengan masih kuatnya permintaan domestik. Meskipun rupiah melemah, volatilitas nilai tukar relatif stabil, sejalan dengan upaya stabilitasi oleh BI.

Selain itu, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang menciptakan sentimen negatif. Kekhawatiran terhadap prospek kebijakan fiskal Amerika Serikat (AS), kelangsungan program stimulus ekonomi oleh The Fed, serta masih tingginya ketidakpastian prospek penanganan krisis Eropa dan kondisi ekonomi makro Eropa yang masih lemah menyebabkan masih rentannya proses pemulihan ekonomi global.

Di samping itu, masih rendahnya harga komoditas internasional yang menjadi basis utama ekspor Indonesia ikut menciptakan kondisi yang tidak kondusif bagi perkembangan rupiah pada periode laporan. Namun, kebijakan bank sentra negara maju yang masih akomodatif serta kebijakan stimulus oleh The Fed (Quantitative Easing 3) dan European Central Bank (ECB) akan mendorong aliran dana masuk ke negara-negara dengan fundamental domestik yang cukup relisen dan menawarkan imbal hasil yang menarik, seperti Indonesia.

Dengan demikian, pelemahan rupiah lebih lanjut dapat tertahan dengan masuknya arus dana dari negara-negara maju tersebut. Selain sentimen negatif, perkembangan eksternal juga memberikan sentimen positif yang ikut memengaruhi pergerakan rupiah.

Sentimen positif muncul dari risiko global yang mengalami moderasi menyusul positifnya perkembangan terkini di AS dan tercapainya kesepakatan guna menghindari fiscal cliff.

Membaiknya risiko global tercermin dari penurunan indkes VIX (Volatility Indkes) dan indeks MSCI World (Morgan Stanley Capital International) selama Januari 2013. Indeks VIX sempat kembali meningkat pada pertengahan bulan laporan, seiring dengan semakin dekatnya batas waktu kenaikan debt ceiling AS yang kembali meningkatkan kekhawatiran di pasar keuangan global. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *