Headline, Moneter dan Fiskal

Investasi Rendah, Kurs Rupiah Membaik

Dealing Room Bank; Tekanan impor berkurang. (Foto: Budi Urtadi)

Penurunan investasi ke Tanah Air, yang nyaris sekitar 5% dalam setahunan selama triwulan satu 2013, diakui Bank Indonesia membuat permintaan impor barang modal ikut turun sehingga membantu perbaikan nilai tukar rupiah. Paulus Yoga 

Jakarta–Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa perlambatan pada investasi dan konsumsi domestik cukup membantu penguatan nilai tukar rupiah, karena membuat permintaan dolar (USD) menurun.

“Jadi, ini tekanan dari impor berkurang, dalam setahunan negatif (impor) untuk barang modal dan konsumsi, dikarenakan investasi dan konsumsi yang melambat,” ujar Direktur Statistik Ekonomi dan Moneter BI Doddy Zulverdi, kepada wartawan di Gedung BI, Jakarta, Jumat, 17 Mei 2013.

Menurutnya, impor nonmigas dalam setahunan mengalami penurunan, sebesar 1% pada Januari, 2,3% pada Februari, dan 10% pada Maret 2013. Secara keseluruhan pada triwulan satu tahun ini, impor nonmigas minus 4,8% dibanding periode sama tahun lalu.

“Jadi itu konsisten di gambaran PDB kita, komponen investasi dan konsumsi secara riil, pengurangan tekanan permintaan valas di dalam negeri sehingga dapat memperkuat nilai tukar rupiah,” ucapnya.

Seperti diketahui, peningkatan investasi ke Indonesia berimbas pada peningkatan impor barang modal untuk mendukung proses investasi tersebut. Kendati impor ini dibiayai oleh para investor, namun pencatatannya akan membuat neraca transaksi berjalan tertekan, dan tentunya membuat  permintaan akan suplai USD naik sehingga rupiah cenderung terdepresiasi.

“Yang aman juga kalau transaksi modal dan finansial itu merupakan dana jangka panjang (berupa penanaman modal asing/PMA). Yang repot kalau pasar global bergejolak, sehingga kekurangan PMA, jadi negatif dan rendah,” tutur Doddy. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *