Headline, Moneter dan Fiskal

Kenaikan Harga BBM pada Juni Tidak Ideal

Agus Martowardojo; Musim liburan. (Foto: Budi Urtadi)

Kenaikan harga BBM bersubsidi yang direncanakan pemerintah dilakukan pada Juni ini, dinilai Bank Indonesia idealnya dilakukan pada April lalu, saat musim panen dan terjadi deflasi. Paulus Yoga

Jakarta–Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo menilai rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Juni tidak ideal karena dilakukan saat musim libur sekolah, di mana tingkat inflasi cenderung tinggi.

“Idealnya memang dilakukan pada bulan April pada saat secara umum sedang panen dan ada deflasi. Melakukan penyesuaian harga BBM di bulan Juni, itu sesuatu yang harus dilakukan tetapi tidak ideal,” ucapnya usai Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR-RI di Gedung DPR, Jakarta, Senin, 3 Juni 2013.

Secara umum, realisasi dari rencana kenaikan harga BBM bersubsidi tergantung persetujuan DPR untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P). Pastinya kenaikan harga BBM bersubsidi akan mengurangi beban anggaran subsidi, dan defisit neraca transaksi berjalan (current account).

“Sekarang kita harus mengantisipasi, proaktif untuk berkoordinasi agar dampaknya (kenaikan harga BBM bersubsidi) tidak besar. Saya hanya ingin sampaikan bahwa penyesuaian harga BBM adalah sangat utama dan kami melihat defisit current account akan bisa di bawah 3% di 2013, dengan adanya penyesuaian harga BBM itu,” imbuh Agus.

Menurutnya, angka inflasi tertinggi pasca kenaikan harga BBM akan terjadi pada bulan Juli 2013, dan bisa mencapai 7,76% untuk keseluruhan tahun ini. Sementara kepada Badan Anggaran DPR RI, Agus menyampaikan bahwa dengan adanya kenaikan harga BBM bersubsidi, defisit transaksi berjalan diprediksi akan membaik menjadi sekitar 2,4% dari PDB pada 2013. Sedangkan proyeksi pada 2014, defisit transaksi berjalan akan berada di kisaran 1,6-1,8% dari PDB. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *