Oleh Redaksi Infobank
Jakarta – Ada yang berbeda di lantai Ground The Garden Hall, Mayapada Tower 2, Rabu (20/5) pagi. Suasana khidmat bercampur optimisme menyelimuti acara Signing Ceremony yang menandai babak baru bagi konglomerasi bisnis milik Dato’ Sri Dr. Tahir.
Bukan sekadar seremoni, hari itu menjadi saksi pertemuan dua raksasa: Mayapada Group dan NongHyup Financial Group (NHFG) dari Korea Selatan.
Di tengah gempuran ketidakpastian ekonomi global, langkah Mayapada justru berani melebarkan sayap. Bukan ekspansi fisik biasa, melainkan lompatan strategis membangun cross-border synergy yang selama ini hanya dilakukan oleh korporasi kelas dunia.
“Kami tidak hanya mencari investor. Kami mencari mitra yang memahami ekosistem, dan tentu dengan mitra raksasa dengan reputasi baik ” ujar Dato Sri Tahir kepada Infobank.
Sementara Arief Liem Direktur Mayapada Ecosystem, dalam sambutannya menjelaskan ekosistem Mayapada Group yang terdiri dari 8 pilar bisnis. Kedepalan pilar bisnis tersebut saling menopang bisnis Mayapada Group. Ada tiga tingkatan dalam layanan dalam ekosistem Mayapada Group; kebutuhan corporate group, kebutuhan karyawan group dan kebutuhan pelanggan & vendor group dengan melibatkan vendor/pemasok dan pelanggan dari perusahaan-perusahaan dalam ekosistem.
Mengapa NongHyup?

Menurut catatan Infobank, nama NongHyup mungkin terdengar asing. Namun di Korea Selatan, entitas ini adalah pilar ekonomi. Berakar dari gerakan koperasi pertanian, NHFG telah bertransformasi menjadi powerhouse finansial dengan aset lebih dari 500 miliar dolar AS, menguasai sektor perbankan, asuransi, hingga sekuritas.
Kerja sama ini, menurut Dato Sri Tahir, bukan soal pinjam-meminjam modal. Ini adalah transfer know-how. NHFG membawa DNA “member-based economy” yang sangat kuat—sesuatu yang sedang coba diperdalam oleh Mayapada melalui ekosistem 8 pilarnya.
Jika melihat peta bisnis Mayapada, konglomerasi ini memiliki keunikan: ia bergerak dari banking (Bank Mayapada), kesehatan (Mayapada Hospital), asuransi (Zurich & Sompo), hingga ritel (WH Smith & IDP) dan hospitality.
Namun, memiliki banyak pilar tidak cukup jika tidak terintegrasi. Di sinilah NHFG berperan.
Dengan pengalaman NHFG dalam mengelola rural banking dan digital finance, Bank Mayapada (aset Rp164 triliun per Desember 2025) diprediksi akan mengalami akselerasi digitalisasi layanan. Lebih dari itu, skema bancassurance dan cross-selling antara nasabah rumah sakit, ritel, dan perbankan akan menemukan bentuk idealnya.
Bahkan, kolaborasi ini akan memperkuat value chain. Contohnya, pasien Mayapada Hospital bisa mendapatkan skema pembayaran cicilan lunak dari Bank Mayapada dengan penjaminan dari Zurich, semuanya diintegrasikan oleh platform teknologi ala NongHyu.
Apa yang dilakukan Mayapada Group yang didirikan 1986 — adalah masterclass tentang bagaimana family-owned conglomerate bisa naik kelas.
Alih-alih melepas kepemilikan, mereka memilih strategic partnership untuk menambal kekurangan teknologi dan tata kelola. Investasi Bain Capital di Mayapada Hospital (2025) menjadi pijakan pertama. Kini, NHFG menjadi pijakan kedua untuk memperkuat lini keuangan dan ritel.
Efeknya langsung terasa. Dengan adanya mitra global, rating Bank Mayapada berpotensi naik. Kepercayaan vendor (lebih dari 3.000 supplier) dan nasabah (8 juta ekosistem) pun melonjak.
Menatap ke Depan

Mayapada Hospital tidak main-main. Target kapasitas tempat tidur rumah sakit hingga 2.000 unit pada 2028 menunjukkan ambisi besar. Kerja sama dengan NHFG akan membuka jalur pembiayaan proyek (project financing) yang lebih murah dan panjang.
Selain itu, sektor ritel seperti WH Smith yang sudah menguasai bandara di Bali, Jakarta, Batam, dan Medan, berpotensi diperluas dengan pendekatan duty-free ala Korea yang sangat maju.
Acara yang berlangsung dari pukul 10.30 hingga 13.00 WIB itu ditutup dengan foto bersama dan jamuan makan siang. Namun, bagi para pemain industri yang hadir, kesan yang tertinggal bukanlah soal hidangan, melainkan peta jalan baru.
Mayapada Group telah membuktikan bahwa untuk menjadi besar, tidak perlu berjalan sendiri. Dengan NongHyup Financial Group, mereka tidak hanya mendapatkan modal, tetapi juga mentalitas untuk tumbuh berkelanjutan.
Seperti kata Chairman NHFG, Lee Chanwoo, dalam keynote speech-nya: “Kami melihat masa depan di sini. Bukan hanya bisnis, tapi keluarga besar.”
Menurut catatan Infobank, sinergi ini akan menjadi inspirasi bisnis di Indonesia: Bahwa kolaborasi lintas negara adalah kunci untuk melompat dari ‘besar’ menjadi ‘global’.
Bahkan, menurut Infobank Institute, kolaborasi strategis ini diprediksi akan mendongkrak laba bersih Bank Mayapada hingga dua digit dalam dua tahun ke depan, sekaligus membuka peluang spin-off unit syariah bekerja sama dengan NHFG yang juga kuat di sektor Takaful. (*)


