Poin Penting
- Defisit APBN semester I 2026 mencapai Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap PDB, yang menurut Menkeu Purbaya masih berada dalam batas aman dan terkendali
- Pendapatan negara terealisasi Rp1.459,4 triliun, naik 21,4 persen (yoy), ditopang penerimaan perpajakan Rp1.187,8 triliun dan PNBP Rp271 triliun
- Belanja negara mencapai Rp1.656 triliun, tumbuh 17,8 persen (yoy), dengan belanja pemerintah pusat naik 29,4 persen, sementara transfer ke daerah turun 11,2 persen.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga semester I 2026 sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Kondisi tersebut mencerminkan defisit APBN tetap dijaga dalam batas aman dan terkendali,” ujar Purbaya dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Selasa, 7 Juli 2026.
Purbaya menyampaikan, pendapatan negara hingga semester I 2026 mencapai Rp1.459,4 triliun, meningkat 21,4 persen secara tahunan (yoy) atau setara 46,3 persen dari target APBN 2026.
Baca juga: Efisiensi Anggaran Kementerian/Lembaga Bakal jadi Acuan Penyusunan ABPN 2026
Realisasi penerimaan negara tersebut terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp1.187,8 triliun, setara 44,1 persen dari target APBN 2026 atau tumbuh 21,4 persen.
Kemudian, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terkumpul sebesar Rp271,0 triliun, tumbuh 21,6 persen atau setara 59 persen dari target.
“Kalau kita lihat penerimaan pajak aja itu tumbuhnya 24,6 persen. Ini perkembangan yang mengembirakan mengingat tahun lalu kontraksi 7 persen di 6 bulan pertama. Jadi reformasi perpajakan dan reformasi organisasi maupun personal di perpajakan sudah memberikan hasil yang cukup menjanjikan sampai ke depannya akan terus membaik,” ungkapnya.
Sementara, dari sisi belanja negara sudah terealisasi Rp1.656 triliun tumbuh 17,8 persen atau setara 43,1 persen dari target APBN 2026.
Belanja negara ini terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.296,8 triliun, tumbuh 29,4 persen atau 41,2 persen dari target dan transfer ke daerah senilai Rp357,4 triliun atau 51,6 persen dari target, meski terkontraksi 11,2 persen dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama.
“Kalau kita lihat belanja negara tahun lalu dalam periode yang sama hanya tumbuh 38,8 persen sekarang tumbuhnya 43,1 persen itu merupakan hasil dari upaya kita untuk memastikan belanja negara lebih terjadi merata sepanjang tahun,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


