Poin Penting
- Menkeu proyeksikan defisit APBN 2026 melebar menjadi Rp734,3 triliun atau 2,85% PDB, lebih tinggi dari target awal Rp689,1 triliun atau 2,68 persen PDB
- Belanja negara diperkirakan mencapai Rp3.942,4 triliun, melampaui pagu APBN, didorong kenaikan belanja pemerintah pusat, transfer ke daerah, serta tambahan anggaran subsidi dan kompensasi
- Pendapatan negara diproyeksikan Rp3.208,1 triliun, dengan penerimaan perpajakan di bawah target, sementara PNBP melampaui target
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 melebar menjadi Rp734,3 triliun atau 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan target APBN 2026 yang telah ditetapkan sebelumnya sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.
Melebarnya proyeksi defisit tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya proyeksi belanja negara yang melebihi pagu.
Belanja negara diperkirakan menjadi sebesar Rp3.942,4 triliun setara 102,6 persen diabndingkan pagu APBN 2026 atau tumbuh 14,8 persen.
Baca juga: Purbaya Lapor Defisit APBN Semester I 2026 Capai Rp196,5 Triliun
Kenaikan belanja negara tersebut didorong oleh adanya kebutuhan belanja pemerintah pusat senilai Rp3.245,5 triliun, tumbuh 25,5 persen dan transfer ke daerah sebesar Rp696,9 triliun atau mencapai 100,6 persen dibandingkan pagu APBN yang senilai Rp693 triliun.
Purbaya mengungkapkan outlook belanja tersebut sudah memperhitungkan tambahan anggaran yang senilai Rp132 triliun untuk pembayaran kewajiban pemerintah, subsisi dan kompensasi.
“Outlook belanja ditunjukkan untuk mendukung program prioritas pembangunan menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat serta untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah penanggulangan bencana dan tambahan otsus (otonomi khusus),” ungkapnya.
Sementara pendapatan negara diproyeksikan sebesar Rp3.208,1 triliun atau 101,7 persen dari target APBN atau tumbuh 16 persen.
Baca juga: Purbaya Tinjau Realisasi APBN dan Pelaksanaan MBG-Kopdes Merah Putih di Jateng
Pendapatan negara ini terdiri dari penerimaan perpajakan diproyeksikan hanya sebesar Rp2.631,4 triliun atau 97,7 persen dari target, yang di dalamnya terdapat penerimaan pajak sebesar Rp2.310,8 triliun atau 98 persen dari target dan kepabeanan serta cukai sebesar Rp320,6 triliun atau 95,4 persen dari target.
Kemudian, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) diproyeksikan sebesar Rp575,1 triliun atau 125,2 persen dari target APBN.
Dengan begitu, kebutuhan pembiayaan anggaran juga diperkirakan meningkat menjadi Rp734,3 triliun untuk menutup defisit yang melebar. (*)
Editor: Galih Pratama


