Poin Penting
- Rupiah melemah 0,31 persen ke Rp17.650 per dolar AS akibat penguatan dolar dan tensi Timur Tengah
- Andry Asmoro menyebut kenaikan harga minyak dan ekspektasi suku bunga The Fed menekan rupiah
- Penurunan bobot Indonesia di indeks MSCI turut memicu sentimen negatif pasar terhadap rupiah.
Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan hari ini Senin (18/5/2026). Rupiah dibuka pada level Rp17.650 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah 0,31 persen dibandingkan penutupan perdagangan pekan lalu di Rp17.597 per dolar AS.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, situasi di Timur Tengah masih rapuh dan jauh dari terselesaikan, dengan Presiden Donald Trump menyebut kalimat pertama dari proposal terbaru Iran sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima”. Akibatnya, harga minyak terus naik, sementara Selat Hormuz masih ditutup.
“Pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping berakhir tanpa kesepakatan besar, termasuk tanpa adanya indikasi bahwa Beijing akan membantu menyelesaikan konflik tersebut,” kata Andry, Senin, 18 Mei 2026.
Baca juga: Presiden Prabowo Soal Rupiah Anjlok: Rakyat di Desa Nggak Pakai Dolar
Selain itu, laporan indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) AS yang dirilis pekan ini menunjukkan bahwa lonjakan harga energi mulai mendorong inflasi AS lebih tinggi.
Sementara, pelaku pasar kini sepenuhnya memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga The Fed pada Januari 2027, dengan probabilitas lebih dari 41 persen.
“Dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama, dengan penguatan terbesar terjadi terhadap dolar Australia dan poundsterling,” tambahnya.
Dari domestik, pekan lalu Morgan Stanley Capital International (MSCI) secara resmi mengumumkan hasil penyeimbangan ulang Mei 2026, dengan 13 saham Indonesia dikeluarkan dari Indeks MSCI Global Small Cap, sementara hanya AMRT yang masuk ke Indeks MSCI Small Cap setelah diturunkan peringkatnya dari Indeks MSCI Global Standard.
Alokasi Indonesia dalam indeks small cap global juga menurun menjadi 0,6 persen dari 1,2 persen, mencerminkan kekhawatiran MSCI yang berkelanjutan atas free float, transparansi kepemilikan, dan Konsentrasi Kepemilikan Saham Tinggi (HSC) di pasar ekuitas Indonesia.
Baca juga: Kata Presiden, Rakyat Desa Tak Pakai Dolar AS: Tapi Diam-Diam Inflasi Mencopet Dompet Orang Desa
“Para pelaku pasar akan terus memantau dampaknya menjelang implementasi efektif pada 29 Mei 2026. MSCI juga terus meninjau reformasi pasar modal Indonesia hingga Juni 2026 di tengah evaluasi free float dan peningkatan transparansi pasar, setelah sebelumnya memperingatkan potensi risiko penurunan peringkat status Pasar Berkembang Indonesia,” ujarnya.
Andry memperkirakan hari ini rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.455 hingga Rp17.510 per dolar AS.
“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di sekitar Rp17.455 dan Rp17.510 per dolar AS,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


