Poin Penting
- Rupiah dibuka melemah tipis ke level Rp17.747 per dolar AS pada perdagangan pagi ini.
- Pasar masih mencermati potensi kegagalan kesepakatan damai AS dan Iran.
- Kebijakan ekspor melalui Danantara turut menjadi sorotan pelaku pasar dan lembaga pemeringkat.
Jakarta – Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada awal perdagangan hari ini, Selasa (26/5/2026). Rupiah berada di level Rp17.747 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah tipis 0,02 persen dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp17.744 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah. Meski pelaku pasar optimistis kesepakatan damai antara AS dan Iran semakin dekat, masih terdapat perdebatan terkait isu-isu penting, termasuk blokade Selat Hormuz.
Baca juga: BI: Kenaikan Suku Bunga Diperlukan untuk Jaga Stabilitas Rupiah dan Tarik Modal Asing
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan sebagian besar negosiasi antara Washington dan Iran berpeluang mencapai kesepakatan yang dimediasi Pakistan. Di sisi lain, Iran disebut berpotensi membuka kembali Selat Hormuz, namun AS diperkirakan masih akan membatasi aktivitas di Laut Oman hingga kesepakatan resmi ditandatangani kedua pihak.
“Tetapi kita harus ingat juga bahwa apakah nota kesepakaman ini akan ditatangani tidak, karena yang lebih penting itu adalah tentang masalah Uranium. Kemudian yang kedua tentang masalah dana yang dibekukan dari tahun 70-an. Ya, ini pun juga cukup menarik dan saya kemungkinan besar beranggapan bahwa perdamaian ini kemungkinan besar akan gagal total,” kata Ibrahim, Selasa 26 Mei 2026.
Sikap The Fed dan Tekanan Domestik
Sementara itu, Ketua Bank Sentral AS Kevin Warsh menyatakan suku bunga masih berpotensi dinaikkan apabila inflasi tetap berada di atas target. Kondisi tersebut membuat pasar melihat kebijakan suku bunga tinggi atau higher for longer di AS masih berpotensi bertahan hingga akhir tahun ini.
Baca juga: Misbakhun Sebut Krisis 1998 Tak Bisa Disamakan dengan Kondisi Rupiah saat Ini
Dari sisi domestik, pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap defisit anggaran pemerintah. Kondisi itu dinilai menjadi salah satu faktor yang menekan sentimen terhadap rupiah, meski harga minyak dunia mulai mengalami penurunan.
“Hal ini terlihat dari pergerakan mata uang negara-negara tetangga yang cenderung menguat, sementara rupiah justru masih tertekan,” ujarnya.
Pasar Cermati Kebijakan Danantara
Selain itu, pasar juga mencermati pidato Presiden Prabowo Subianto terkait kebijakan ekspor komoditas melalui Danantara. Kebijakan tersebut dinilai memunculkan kritik, khususnya dari lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global, terkait potensi penurunan peringkat utang pemerintah Indonesia.
Baca juga: Airlangga Ungkap Selisih Data Ekspor RI Capai Ratusan Triliun Rupiah
Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi melanjutkan pelemahan di kisaran Rp17.740 hingga Rp17.800 per dolar AS atau melemah sekitar 50 hingga 60 poin. (*)
Editor: Yulian Saputra


