Poin Penting
- Rupiah melemah 33 poin menjadi Rp17.630 per dolar AS akibat sentimen risk off global.
- Investor kecewa karena pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump minim membahas solusi konflik AS-Iran.
- Kenaikan harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik Timur Tengah menekan pasar keuangan global dan rupiah.
Jakarta – Rupiah melemah pada perdagangan Senin (18/5) pagi setelah pelaku pasar merespons hasil pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dinilai belum memberikan solusi konkret terkait konflik AS-Iran.
Nilai tukar rupiah tercatat turun 33 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.630 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu sentimen risk off global yang kembali meningkat di pasar keuangan internasional. Penguatan dolar AS terjadi bersamaan dengan aksi jual di berbagai instrumen investasi, mulai dari obligasi, saham, kripto, hingga mata uang negara berkembang.
“Rupiah berpotensi kembali melemah merespons sentimen risk off global pada hari Jumat (15/5), dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off semua aset, termasuk obligasi, saham, crypto, dan mata uang oleh kekecewaan investor pada hasil pertemuan Xi dan Trump yang tidak banyak membahas atau memberikan solusi terhadap perang AS-Iran,” ungkapnya dikutip Antara, Senin.
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Kini Tembus Rp17.650
Rupiah Melemah Dipicu Kekhawatiran Konflik Iran
Dalam pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump, China mendorong agar Selat Hormuz segera dibuka kembali dengan tetap mempertahankan gencatan senjata. Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyebut Beijing terus berupaya mendorong perdamaian dan memfasilitasi perundingan guna meredakan konflik di Timur Tengah.
Namun, situasi geopolitik dinilai masih jauh dari stabil. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan upaya mediasi yang dipimpin Pakistan bersama AS menghadapi “jalan yang sangat sulit”. Hal itu karena rendahnya tingkat kepercayaan terhadap Washington dan adanya pesan-pesan Amerika yang dinilai kontradiktif.
Araghchi juga menegaskan Iran tetap berkomitmen pada jalur diplomasi, meski kondisi gencatan senjata disebut masih “goyah” setelah konflik yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran.
Sementara itu, Trump disebut belum yakin kesepakatan dengan Iran dapat segera tercapai. Negosiasi mengenai program nuklir Iran dan konflik kawasan disebut masih berjalan tanpa titik temu yang jelas.
Beberapa laporan media bahkan menyebut Trump tengah mempertimbangkan kemungkinan melanjutkan serangan terhadap rezim Iran dalam beberapa waktu mendatang.
Situasi tersebut membuat harga minyak mentah dunia kembali naik dan memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan global. Kondisi ini turut menjadi faktor yang membuat rupiah melemah di tengah tingginya kekhawatiran investor terhadap lonjakan harga energi.
“Kedua negara dan dunia menginginkan perang berakhir, namun sepertinya sulit bagi Iran melepas ambisi nuklir mereka, sehingga dalam pertemuan Xi dan Trump lebih banyak membahas hubungan kedua negara,” kata Lukman.
Pertemuan Xi-Trump Fokus ke Hubungan Dagang dan Investasi
Meski pasar kecewa terhadap minimnya pembahasan soal Iran, Gedung Putih menyatakan Trump dan Xi mencapai sejumlah kesepakatan strategis untuk menstabilkan hubungan Washington dan Beijing. Kedua pemimpin disebut sepakat membangun hubungan konstruktif berbasis stabilitas strategis, keadilan, dan timbal balik.
Pertemuan tersebut juga menghasilkan rencana pembentukan Dewan Perdagangan AS-China dan Dewan Investasi AS-China. Kedua lembaga bilateral itu akan difokuskan untuk mengelola perdagangan barang non-sensitif serta forum pembahasan investasi antar pemerintah.
Di sektor ekonomi, China menyatakan komitmen untuk mengatasi kekhawatiran AS terkait rantai pasok logam tanah jarang dan mineral penting seperti yttrium, scandium, neodymium, serta indium. Beijing juga menyepakati pembelian awal 200 pesawat Boeing untuk maskapai penerbangan China.
Selain itu, China berjanji membeli sedikitnya 17 miliar dolar AS produk pertanian AS setiap tahun pada periode 2026 hingga 2028. Beijing juga membuka kembali akses pasar untuk produk daging sapi Amerika serta melanjutkan impor unggas dari wilayah AS yang dinyatakan bebas flu burung.
Baca juga: Presiden Prabowo Soal Rupiah Anjlok: Rakyat di Desa Nggak Pakai Dolar
Proyeksi Rupiah dan Respons Pasar Global
Meski kerja sama ekonomi antara AS dan China dinilai positif, pelaku pasar masih lebih fokus terhadap risiko geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia. Kondisi itu membuat sentimen terhadap aset berisiko tetap cenderung negatif.
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya berada di kisaran Rp17.550 hingga Rp17.650 per dolar AS. Tekanan eksternal diperkirakan masih membayangi pasar selama belum ada kepastian terkait penyelesaian konflik Iran.
Rupiah melemah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga ketidakpastian global yang meningkat akibat belum adanya solusi konkret dari pertemuan Xi dan Trump terhadap ketegangan AS-Iran. (*)
Editor: Yulian Saputra


