Poin Penting
- Perbankan mendukung kenaikan BI Rate ke 5,50 persen untuk menjaga stabilitas rupiah dan ekonomi nasional
- BBCA, BBRI, dan BMRI fokus menjaga likuiditas, kualitas aset, serta pertumbuhan kredit secara prudent
- BBTN mewaspadai dampak ke sektor sensitif bunga, sementara Bank Raya memperkuat CASA untuk menekan biaya dana.
Jakarta – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen secara mendadak kemarin, mendapat respons beragam dari industri perbankan.
Meski demikian, mayoritas bank menilai langkah tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Sejumlah bank besar seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Mandiri (BMRI) menyatakan dukungan terhadap kebijakan tersebut, sembari menyiapkan strategi untuk menjaga likuiditas, kualitas aset, dan pertumbuhan kredit.
BBCA
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan kenaikan BI Rate merupakan langkah strategis bank sentral dalam merespons dinamika ekonomi global serta pergerakan nilai tukar rupiah.
Menurutnya, BCA terus memantau perkembangan suku bunga acuan, kondisi likuiditas perbankan, serta berbagai indikator makroekonomi guna menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dan ekspansi kredit yang sehat.
“Ke depan, kami akan terus mendorong penyaluran kredit yang berkualitas dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan penerapan manajemen risiko yang disiplin,” ujar Hera kepada Infobanknews.
Baca juga: Menakar Kesaktian Kenaikan Suku Bunga Acuan BI
BBRI
Senada, Corporate Secretary BRI, Dhanny, menilai kenaikan suku bunga acuan merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas makroekonomi nasional, khususnya nilai tukar rupiah dan inflasi di tengah tingginya volatilitas pasar keuangan global.
BBRI meyakini fundamental industri perbankan masih kuat dengan dukungan permodalan yang memadai, likuiditas yang terjaga, serta kualitas aset yang tetap resilien.
BBRI juga memastikan akan terus mengelola aset dan liabilitas secara prudent sembari menjaga fungsi intermediasi, khususnya bagi segmen UMKM.
BMRI
Sementara itu, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menyebut keputusan BI mencerminkan ketegasan bank sentral dalam menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah tekanan eksternal, termasuk ketidakpastian geopolitik dan arus keluar modal asing.
Menurut Novita, stabilitas ekonomi menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan aktivitas usaha dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Karena itu, Bank Mandiri akan terus memperkuat strategi ekosistem value chain dan kapabilitas digital untuk mendukung kebutuhan nasabah dan dunia usaha.
“Setiap penyesuaian suku bunga simpanan maupun kredit akan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar, dinamika likuiditas, serta pengelolaan risiko yang prudent,” tegasnya.
BBTN
Chief Economist BTN Myrdal Gunarto menilai kenaikan suku bunga acuan berpotensi memberikan tekanan terhadap sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya pendanaan dan daya beli masyarakat.
Oleh karena itu, keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi akan tetap menjadi faktor penting dalam arah kebijakan moneter.
Ke depan, kata Myrdal, BBTN menilai bahwa ruang penyesuaian BI-Rate akan sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah, inflasi, arus modal asing, serta dinamika ekonomi global.
Dengan asumsi tekanan eksternal mulai mereda dan stabilitas nilai tukar dapat terjaga, ruang kenaikan suku bunga lanjutan diperkirakan relatif terbatas.
Baca juga: Airlangga Ungkap Alasan BI Naikkan Suku Bunga di Luar Jadwal: Pasar Butuh Sinyal Kuat
AGRO
Di sisi lain, Bank Raya (AGRO) memilih fokus memperkuat struktur dana murah atau current account saving account (CASA) sebagai strategi menghadapi kenaikan suku bunga.
Direktur Bisnis Bank Raya, Kicky Andrie Davetra, mengatakan perseroan telah mengantisipasi perubahan suku bunga sejak awal melalui penguatan layanan digital dan pengembangan produk tabungan digital. Hingga kuartal I 2026, tren CASA Bank Raya dinilai terus menunjukkan perbaikan.
“Harapannya pertumbuhan simpanan tidak lagi didorong oleh penempatan dana yang mahal, tetapi berorientasi pada peningkatan dana murah,” ujarnya dalam Pubex Live 2026, kemarin. (*)


