Poin Penting:
- BUAH menilai kenaikan BBM lebih sulit dimitigasi dibandingkan fluktuasi kurs karena berdampak langsung pada biaya distribusi.
- Perseroan melakukan diversifikasi mata uang impor ke RMB untuk menjaga harga produk tetap kompetitif.
- BUAH menargetkan laba bersih Rp80 miliar pada 2026 dengan strategi efisiensi dan ekspansi terukur.
Jakarta – PT Segar Kumala Indonesia Tbk dengan kode emiten BUAH mewaspadai tekanan fluktuasi nilai tukar rupiah dan potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah langkah ekspansi bisnis yang tetap berjalan pada 2026. Perseroan menilai dua faktor tersebut menjadi tantangan utama bagi industri distribusi buah yang bergantung pada impor dan biaya logistik tinggi.
Dalam Paparan Publik di Jakarta, Selasa (26/5/2026), manajemen menegaskan strategi mitigasi risiko terus diperkuat agar profitabilitas tetap terjaga. Perseroan juga memastikan ekspansi cabang dan penguatan infrastruktur rantai dingin tetap dilakukan secara hati-hati di tengah dinamika ekonomi global.
Komisaris Utama PT Segar Kumala Indonesia Tbk, Hendro Susilo, mengatakan tahun 2025 bukan periode yang mudah bagi sektor perdagangan. “Kita dihadapkan pada situasi politik eksternal yang sangat dinamis, fluktuasi pasar yang menantang, serta isu makroekonomi yang membayangi daya beli masyarakat,” ujarnya.
Baca juga: BUAH Tebar Dividen Rp50 Miliar, Ekspansi Tetap Jalan di Tengah Tekanan Daya Beli
BUAH Antisipasi Tekanan Kurs dan Lonjakan Biaya Distribusi
Direktur Utama PT Segar Kumala Indonesia Tbk, Renny Lauren, mengakui fluktuasi kurs memberikan dampak langsung terhadap operasional perseroan, mengingat sebagian besar produk buah masih berasal dari impor.
“Fluktuasi kurs tentu sangat berdampak walaupun mitigasi yang kita lakukan sudah kita lakukan dengan diversifikasi dari kurs tersebut. Beberapa produk yang kita impor 66 persennya adalah dari China, maka kita mendiversifikasi produk kursnya menjadi Renminbi atau RMB,” ujar Renny.
Menurutnya, strategi diversifikasi mata uang dilakukan untuk menjaga harga jual tetap kompetitif di tengah tren smart spending masyarakat. Perseroan juga berupaya mempertahankan daya saing harga agar konsumsi buah tetap tumbuh.
Namun demikian, Renny menilai ancaman terbesar justru berasal dari potensi kenaikan BBM yang sulit dikendalikan oleh perusahaan distribusi.
“Kalau kurs kita mungkin bisa diversifikasi tapi kalau BBM sangat sulit dihindari,” katanya.
Baca juga: Daftar Harga BBM Terbaru di Pertamina, Shell, BP, dan Vivo Selepas Libur Panjang
Perseroan pun memperketat efisiensi operasional, terutama dengan menekan risiko waste atau penyusutan kualitas produk selama distribusi. Langkah ini dinilai penting karena biaya pengiriman ke wilayah Indonesia Timur jauh lebih tinggi dibandingkan distribusi di Pulau Jawa.
BUAH Perketat Efisiensi dan Fokus Kirim Produk Berkualitas
Untuk menjaga margin keuntungan, perseroan akan memperkuat pengawasan kualitas produk sejak di pusat distribusi. Produk yang mengalami penurunan kualitas akan diseleksi lebih awal agar tidak meningkatkan beban logistik.
“Saat ini saya bersama seluruh tim direksi secara operasional akan sangat mengetatkan risiko waste-nya. Jadi waste itu akan kita minimalisir sehingga pengiriman kami ke daerah adalah yang paling bagus kualitasnya,” ujar Renny.
Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga profitabilitas di tengah ekspansi yang tetap berjalan moderat. Pada 2026, perseroan menargetkan pembukaan dua cabang baru dengan pendekatan prudent growth atau pertumbuhan terukur.
Selain itu, BUAH juga mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp12 miliar pada 2026 untuk modernisasi fasilitas cold chain dan armada distribusi. Perseroan memastikan ekspansi dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan potensi pasar dan efisiensi biaya logistik.
BUAH Tetap Optimistis Kinerja Tumbuh pada 2026
Di tengah tantangan kurs dan kenaikan BBM, perseroan tetap optimistis terhadap prospek bisnis tahun ini. Hingga kuartal I-2026, manajemen mencatat pertumbuhan pendapatan sekitar 17 persen secara year on year.
Perseroan juga memproyeksikan laba bersih mencapai Rp80 miliar pada 2026, ditopang pertumbuhan penjualan buah segar dan penguatan jaringan distribusi nasional.
Sebelumnya, sepanjang 2025 perseroan membukukan pendapatan Rp3,27 triliun atau naik 47,7 persen secara tahunan. Laba bersih juga meningkat 42,7 persen menjadi Rp50,4 miliar.
Baca juga: Mulai 2027, Negara Ambil Alih Ekspor CPO dan Batu Bara Senilai Rp1.000 Triliun
Di sisi lain, RUPS perseroan menyetujui pembagian dividen final Rp25 miliar. Dengan demikian, total dividen dari laba tahun buku 2025 mencapai Rp50 miliar.
Manajemen menilai strategi ekspansi yang hati-hati, penguatan efisiensi distribusi, serta mitigasi risiko kurs menjadi kunci bagi BUAH untuk menjaga pertumbuhan di tengah tekanan biaya logistik dan ketidakpastian ekonomi global. (*)
Editor: Yulian Saputra


