Poin Penting:
- Program MBG mendorong peningkatan penjualan buah segar setelah pemerintah mengurangi konsumsi ultra processed food untuk anak-anak.
- BUAH mencatat pendapatan Rp3,27 triliun pada 2025, tumbuh 47,7 persen secara tahunan dengan laba bersih naik 42,7 persen menjadi Rp50,4 miliar.
- Perseroan menyiapkan capex Rp12 miliar pada 2026 untuk memperkuat cold chain dan ekspansi cabang baru secara prudent, termasuk di Lampung dan Gorontalo.
Penjualan di Pasar Domestik Meningkat
Jakarta – PT Segar Kumala Indonesia Tbk (BUAH) mengungkapkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memberikan dampak positif terhadap penjualan buah-buahan perseroan. Kebijakan pemerintah yang mendorong konsumsi makanan bergizi dan mengurangi produk ultra processed food dinilai meningkatkan permintaan buah segar di pasar domestik.
Direktur Utama PT Segar Kumala Indonesia Tbk, Renny Lauren, mengatakan perubahan pola konsumsi dalam program MBG mulai terasa sejak pertengahan 2025. Menurutnya, buah-buahan kini menjadi bagian penting dalam pemenuhan gizi anak-anak.
“Untuk prospek G2G ini sebenarnya MBG ada berdampak pada penjualan buah-buahan karena pada pertengahan tahun 2025 pemerintah memutuskan memperhatikan makanan yang diberikan kepada anak-anak di mana tidak ada ultra processing food, mereka mulai mengganti produk itu menjadi buah-buahan,” ujar Renny dalam Paparan Publik Perseroan di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Ia menambahkan, perubahan kebijakan tersebut menjadi sentimen positif bagi industri distribusi buah. “Mereka mulai mengonsumsi buah-buahan karena buah-buahan memang memberikan gizi dan kesehatan untuk anak-anak,” lanjutnya.
Baca juga: Menteri Maman Minta Kredit UMKM Rp1.500 Triliun Dukung Swasembada dan MBG
BUAH Fokus Produk Fast Moving dan Smart Spending
Manajemen BUAH menilai tren konsumsi masyarakat saat ini bergerak ke arah smart spending, sehingga perseroan memilih fokus pada produk fast moving dibanding mengambil risiko di produk unconventional.
Perseroan juga terus memperkuat distribusi di pasar tradisional maupun modern. Hingga akhir 2025, SKI telah memiliki 18 cabang dengan kapasitas distribusi mencapai 8.505 ton dan didukung 92 unit kendaraan berpendingin.
Dalam paparannya, Renny menjelaskan strategi pertumbuhan perseroan tetap mengedepankan prinsip prudent growth. Menurut dia, ekspansi dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan potensi pasar dan efisiensi operasional.
“Kami menegaskan bahwa strategi ekspansi ini dieksekusi dengan prinsip kehati-hatian (prudence) yang sangat ketat. Pembukaan cabang baru tidak dilakukan secara agresif tanpa perhitungan,” katanya.
Pada 2026, perseroan telah membuka cabang baru di Lampung dan sedang memproses pembangunan cabang di Gorontalo. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat penetrasi pasar di luar Pulau Jawa.
Pendapatan BUAH Melonjak 47,7 Persen
Dari sisi kinerja keuangan, BUAH mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang 2025. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp3,27 triliun atau meningkat 47,7 persen secara tahunan.
Direktur Keuangan Vianita Januari mengatakan pertumbuhan tersebut ditopang penjualan buah-buahan dan ayam beku yang meningkat kuat sepanjang tahun lalu.
“Perseroan juga mencatatkan peningkatan laba bersih menjadi Rp50,4 miliar atau tumbuh sebesar 42,7 persen secara year on year, mencerminkan kemampuan perseroan dalam menjaga profitabilitas di tengah ekspansi usaha,” ujarnya.
Secara geografis, kontribusi penjualan masih didominasi Pulau Jawa dengan nilai sekitar Rp2,1 triliun. Namun, ekspansi cabang di luar Jawa diharapkan mampu memperkuat pertumbuhan pendapatan ke depan.
Pada kuartal I 2026, manajemen menyebut pendapatan perseroan masih tumbuh 17 persen secara tahunan. Perseroan pun memproyeksikan laba bersih tahun 2026 dapat mencapai Rp80 miliar.
BUAH Siapkan Capex dan Jaga Margin
Di tengah tantangan fluktuasi kurs dan kenaikan biaya logistik, BUAH tetap mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp12 miliar pada 2026. Dana tersebut akan digunakan untuk modernisasi gudang pendingin dan penambahan armada distribusi.
Perseroan juga memperketat efisiensi operasional guna menjaga net profit margin (NPM). Salah satu strategi yang dilakukan adalah meminimalkan risiko waste produk selama distribusi, terutama untuk pengiriman ke wilayah Indonesia Timur yang memiliki biaya logistik lebih tinggi.
Baca juga: BUAH Tebar Dividen Rp50 Miliar, Ekspansi Tetap Jalan di Tengah Tekanan Daya Beli
Selain menjaga pertumbuhan bisnis, perseroan juga tetap agresif memberikan imbal hasil kepada investor. Berdasarkan hasil RUPS, perseroan menyetujui pembagian dividen final Rp25 miliar, sehingga total dividen dari laba tahun buku 2025 mencapai Rp50 miliar.
Komisaris Utama Hendro Susilo menegaskan fundamental bisnis perseroan tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Fokus utama perseroan adalah fundamental bisnis SKI dengan membaca pola konsumsi riil masyarakat secara mendalam dan memaksimalkan potensi daerah di seluruh pelosok Indonesia,” kata Hendro.
Dengan dukungan program MBG, ekspansi distribusi, dan strategi efisiensi yang dijalankan, BUAH optimistis mampu menjaga pertumbuhan pendapatan sekaligus memperkuat profitabilitas pada 2026. (*)
Editor: Galih Pratama


