Poin Penting
- BI tidak ingin mengulang pola lama stabilisasi rupiah yang berisiko memicu kekeringan likuiditas.
- Sepanjang 2026 hingga Mei, BI telah membeli SBN sebesar Rp133,39 triliun untuk menjaga likuiditas pasar.
- Pertumbuhan uang primer (M0) meningkat menjadi 14,1 persen pada April 2026.
Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan tidak ingin menerapkan pola lama dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang berpotensi memperketat likuiditas di pasar keuangan.
Perry mengatakan, BI telah belajar dari pengalaman krisis moneter 1997-1998 dan krisis keuangan global 2008. Saat itu, bank sentral terlalu fokus menstabilkan rupiah melalui intervensi besar-besaran yang justru memicu kekeringan likuiditas.
“Kami belajar dulu zaman 1997-1998, 2008 dulu kita banyak fokus untuk stabilitas nilai tukar rupiah, banyak intervensi, tidak sadar intervensi ini menaikan instrumen moneter, menguras likuiditas. Sehingga mengobati stabilitas nilai rupiah, tapi menimbulkan kekeringan likuiditas. Kami gak mau itu,” ujar Perry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin 18 Mei 2026.
Baca juga: Bos BI Optimistis Rupiah Kembali Menguat Mulai Juli 2026
Untuk menjaga keseimbangan, BI kini tidak hanya melakukan intervensi di pasar valuta asing, tetapi juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder guna menjaga likuiditas dan memperkuat stabilitas rupiah.
Sepanjang 2026 hingga Mei, BI tercatat telah membeli SBN senilai Rp133,39 triliun, setelah sebelumnya membeli Rp332,14 triliun sepanjang 2025.
“Ini sekaligus tujuannya supaya tidak kekeringan likuiditas, mengatasi masalah jangan menimbulkan masalah, tapi likuiditas. rupiah kami jaga dan juga bagian-bagian ini adalah nanti untuk menarik inflow juga,” ungkapnya.
Baca juga: Balas Kritik Media Asing, Purbaya Klaim Utang Pemerintah Lebih Aman Dibanding Eropa
Perry menjelaskan, BI juga menjual SBN jangka pendek senilai Rp1.700 triliun agar yield meningkat dan menarik aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.
“Kami terus terang ada Rp1.700 triliun dalam SBN kami kami jual yang jangka pendek, sehingga yield SBN naik ada inflow, tapi kami beli jangka panjang supaya yield 6,9 persen di APBN itu masih terjaga,” lanjutnya.
Pertumbuhan Likuiditas Dijaga Tetap Double Digit
Selain itu, BI menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan melalui koordinasi erat kebijakan fiskal dan moneter.
Langkah tersebut tecermin dari pertumbuhan uang primer (M0) yang tetap berada di level double digit. Pertumbuhan M0 meningkat dari 11,8 persen pada Maret 2026 menjadi 14,1 persen pada akhir April 2026.
BI berharap strategi kombinasi stabilisasi rupiah dan penguatan likuiditas ini mampu menjaga stabilitas pasar keuangan nasional di tengah tingginya tekanan global terhadap mata uang negara berkembang. (*)
Editor: Yulian Saputra


