Poin Penting
- Realisasi penyaluran KUR mencapai Rp105,8 triliun hingga Mei 2026 atau 35,8 persen dari target tahunan.
- Mayoritas penerima KUR merupakan debitur baru dengan porsi mencapai 83 persen.
- Pemerintah terus mendorong peningkatan porsi kredit UMKM dan memperluas akses pasar bagi pelaku usaha.
Jakarta – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencatat, realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp105,8 triliun per Mei 2026. Angka ini setara 35,8 persen dari target tahun 2026, yang disalurkan kepada 1,69 juta debitur.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman, mengatakan, dari total debitur tersebut, sebanyak 511 ribu merupakan debitur graduasi. Sementara itu, 1,14 juta lainnya merupakan debitur anyar atau sekitar 83 persen dari total penerima KUR.
“Angka ini meningkat dibanding tahun lalu yang hanya sebesar 60 persen,” ujar Maman, dinukil Antara, Senin, 18 Mei 2026.
Meski demikian, ia menilai bahwa penyaluran kredit bagi UMKM secara keseluruhan masih perlu ditingkatkan.
Baca juga: Purbaya Klaim Dapat Lampu Hijau Danantara untuk Akuisisi PNM
Ia menjelaskan, total kredit yang disalurkan oleh bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan bank swasta sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp8.149 triliun.
Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), sebesar 25 persen dari total kredit tersebut seharusnya dialokasikan ke sektor UMKM.
Namun, realisasinya baru mencapai 18,3 persen atau sekitar Rp1.500 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp270 triliun merupakan penyaluran KUR, sementara sisanya sekitar Rp1.200 triliun merupakan kredit UMKM non-KUR.
“Ini yang terus kami dorong agar porsinya bisa meningkat sesuai target,” kata Maman.
Selain memperluas akses pembiayaan, pemerintah kata dia juga terus memperkuat akses pasar dan kemitraan bagi UMKM.
Baca juga: Ada Wacana Bunga KUR 5 Persen, Valuasi Saham Bank Himbara Terancam Terkoreksi?
Dalam program kemitraan rantai pasok, Kementerian UMKM mencatat potensi transaksi mencapai Rp2,21 triliun dengan melibatkan sekitar 804 UMKM.
Ia menambahkan, keterlibatan UMKM dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menanjak. Maman melaporkan, hingga kini sekitar 57.600 UMKM telah terlibat sebagai pemasok dalam program tersebut.
Di sisi lain, Kementerian UMKM juga tengah mengembangkan program SAPA UMKM yang bertujuan mengintegrasikan data dan layanan bagi pelaku usaha. Maman menyebut program ini telah memasuki tahap uji coba di Bandung, Makassar, dan Bali dengan melibatkan 1.000 pelaku usaha mikro.
“Hasilnya cukup positif, meskipun masih ada beberapa hal yang perlu disempurnakan. Evaluasi akan terus dilakukan agar layanan yang diberikan semakin optimal bagi UMKM,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


