Poin Penting:
- Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mendorong pertumbuhan kredit perbankan kembali ke level dua digit untuk menopang target ekonomi 8 persen.
- Pertumbuhan kredit dinilai menjadi indikator utama penguatan investasi dan sektor riil nasional.
- Misbakhun menegaskan stabilitas sektor perbankan dan jasa keuangan Indonesia tetap solid meski rupiah mengalami tekanan.
Jakarta – Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menegaskan pentingnya pertumbuhan kredit perbankan mencapai level dua digit untuk menopang target pertumbuhan ekonomi nasional menuju 8 persen. Menurutnya, penguatan sektor jasa keuangan menjadi salah satu kunci utama agar investasi dan sektor riil dapat bergerak lebih agresif di tengah tantangan global dan dinamika domestik.
Pada acara Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) 2026 di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5/2026), Misbakhun menyebut capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,01 persen pada kuartal I-2026 merupakan fondasi awal menuju target pertumbuhan yang lebih tinggi.
“Bahwa pertumbuhan menuju ke 8 persen ini sedang kita tapaki, sedang kita rintis untuk menuju ke sana,” ujar Misbakhun.
Baca juga: Misbakhun Ungkap Penyebab Transfer ke Daerah Berkurang Meski Belanja Negara Naik
Ia menjelaskan, pemerintah telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2027 di kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen sebagaimana disampaikan Presiden dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF). Target tersebut, kata dia, membutuhkan sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, hingga sektor jasa keuangan.
Misbakhun: Kredit Perbankan jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Misbakhun menilai sektor jasa keuangan memiliki posisi strategis sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional setelah sektor pertanian. Menurutnya, pertumbuhan kredit perbankan akan menentukan laju investasi dan penguatan sektor riil di berbagai daerah.
“Pertumbuhan kredit adalah salah satu indikator utama bagaimana investasi itu dikembangkan,” kata Misbakhun.
Ia mengingatkan tantangan terbesar sektor keuangan saat ini ialah mendorong pertumbuhan kredit kembali ke level dua digit. Menurut dia, capaian pertumbuhan kredit sebesar 10,7 persen pada 2023 menjadi momentum penting yang harus dipertahankan bahkan ditingkatkan.
“Dan ini akan menjadi tantangan kepada perbankan untuk menaikkan level itu untuk memberikan apa? Dorongan investasi,” ujarnya.
Baca juga: Kontribusi BUMN Kerek Laju Pertumbuhan Ekonomi RI
Misbakhun menilai, ketika sektor riil tumbuh dengan dukungan pembiayaan yang kuat dari perbankan, maka dampak penggandanya terhadap perekonomian nasional akan semakin besar. Kredit yang mengalir ke korporasi, sektor konsumsi, hingga UMKM diyakini mampu memperkuat daya beli masyarakat sekaligus menopang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).
Ia juga menyinggung besarnya dukungan pemerintah terhadap pembiayaan UMKM melalui subsidi Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang mencapai hampir Rp40 triliun per tahun. Program tersebut dinilai menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga geliat ekonomi masyarakat bawah.
Misbakhun Soroti Sinergi Fiskal, Moneter, dan Sektor Keuangan
Selain mendorong pertumbuhan kredit, Misbakhun menekankan pentingnya sinergi lintas kebijakan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen. Ia menyebut pemerintah pusat tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan pemerintah daerah, regulator sektor keuangan, serta pelaku usaha.
Menurut Misbakhun, transformasi strategi pembangunan saat ini diarahkan untuk memperkuat ekonomi berbasis daerah. Salah satu instrumen yang didorong pemerintah ialah pengembangan proyek-proyek investasi melalui Danantara di berbagai wilayah Indonesia.
“Banyak proyek-proyeknya Danantara yang merupakan investasi besar itu berkembang hampir di banyak daerah sebagai akselerator pembangunan di daerah,” katanya.
Baca juga: Misbakhun Buka Suara soal Pembentukan DSI dan Pengawasan Ekspor Nasional
Di sisi lain, Misbakhun juga mengakui adanya tantangan komunikasi publik terkait perubahan strategi transfer anggaran pusat ke daerah. Ia menyebut banyak kepala daerah mempertanyakan berkurangnya transfer daerah, meski pemerintah menegaskan anggaran pembangunan secara keseluruhan tetap meningkat.
APBN 2026 sendiri tercatat mencapai Rp3.842 triliun, naik dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp3.623 triliun. Menurut dia, perubahan pola penyaluran anggaran dilakukan agar program pembangunan pusat dapat lebih terintegrasi dan langsung menyentuh masyarakat.
Stabilitas Rupiah dan Perbankan Dinilai Tetap Solid
Dalam kesempatan itu, Misbakhun juga menyoroti persepsi publik terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat berada di level Rp17.600 per dolar AS. Ia meminta masyarakat tidak membandingkan kondisi saat ini dengan krisis ekonomi 1998.
“Rupiah saat itu berada di level tersebut berangkat dari angka 2.000-an. Saat ini rupiah 17.000 itu mengalami proses berangkat dari angka 16.800, 16.900, dan prosesnya itu melalui proses volatilitas yang terjaga,” ujar Misbakhun.
Baca juga: Misbakhun Sebut Krisis 1998 Tak Bisa Disamakan dengan Kondisi Rupiah saat Ini
Ia menegaskan kondisi sektor perbankan dan jasa keuangan nasional saat ini tetap solid di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurutnya, Indonesia telah memiliki sistem pengawasan dan regulasi yang jauh lebih kuat dibandingkan masa krisis sebelumnya.
Misbakhun mencontohkan lahirnya Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pascakrisis 1998 serta pembentukan OJK setelah krisis finansial global 2008 sebagai bentuk respons struktural pemerintah dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
“Sehingga kita menghadapi satu krisis ke krisis yang lain, apalagi sampai pandemi COVID, tidak ada situasi yang membuat kita tercekam dalam situasi krisis gejolak keuangan,” katanya.
Misbakhun menegaskan keterpaduan kebijakan pusat, daerah, dan sektor jasa keuangan harus terus diperkuat agar pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat secara inklusif. Menurut dia, target pertumbuhan tinggi hanya dapat dicapai jika sektor keuangan mampu menjadi motor penggerak investasi dan pembangunan nasional. (*)
Editor: Yulian Saputra


